Sabtu, 30 September 2017

Mempelajari Sejarah

Sejarah..
Apa pentingnya mempelajari sejarah? Tidakkah lelah selalu menengok ke belakang? Untuk apa terus mengingat masa lalu?

Dulu saya pernah berpikir untuk apa kita mempelajari sejarah. Selalu menengok ke belakang akan membuat kita merasa lelah.

Saya dulu mengibaratkan mempelajari sejarah itu dengan "susah move on". Tidak bisa beranjak dari suatu keadaan di masa lalu. Menengok ke belakang secara terus menerus akan membuat kita tidak bisa melihat apa yang ada di depan dan mempersiapkan masa depan dengan baik.  Bukankah apa yang kita lakukan saat ini sejatinya adalah persiapan untuk masa depan? Pun bukankah apa yang kita lakukan saat ini sebenarnya akan kita tuai di masa yang akan datang?
Bahkan hari ini pun akan menjadi sejarah esok hari dan patut kita evaluasi. Apakah kita telah menjalankan hari ini sebaik-baiknya?

Setelah memahami maksud mempersiapkan diri, saya mulai memahami pentingnya mempelajari sejarah. Sesekali kita perlu menengok ke belakang dan mempelajari sejarah agar kita bisa belajar dari kesalahan masa lalu.  Memperbaiki yang masih bisa diperbaiki. Mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Mempelajari sejarah seperti melakukan evaluasi atas apa yang sudah dilakukan di masa silam. Menemukan titik kelemahan atas suatu kejadian agar tidak terulang kembali di masa kini dan masa depan.

Jumat, 29 September 2017

Menyelami Dunia Sosial Agar Lebih Bersyukur


Seringkali kita sibuk dengan kegiatan kita sehari-hari dan terlupa bahwa di luar sana ada banyak hal yang perlu kita sadari keberadaannya. Ada banyak orang yang mungkin membutuhkan kehadiran kita meskipun hanya sekedar berbagi kebahagiaan. Ada dunia lain yang perlu kita selami agar kita menjadi manusia yang berbeda.
Suatu ketika saya diberi kesempatan untuk bergabung menjadi relawan di lembaga kemanusiaan nasional yang berada di Kota Solo. Kegiatan pertama yang saya ikuti adalah program berbagi dengan anak yatim. Lembaga tersebut memiliki sekitar 40an anak yatim binaan. Mereka didampingi secara intensif mulai dari kebutuhan sekolah, kegiatan keagamaan hingga program wisata edukasi. Harapan dari pendampingan secara intensif tersebut adalah agar mereka dapat bersekolah tanpa terkendala biaya, agar mereka memiliki motivasi beribadah, dan sesekali mereka perlu merasakan berlibur.
Usia mereka berkisar 5 hingga 10 tahun. Sedih? Pasti. Melihat anak seusia mereka sudah kehilangan salah satu orang tua bahkan keduanya. Membayangkan bagaimana kehidpuan mereka setiap hari tanpa kasih sayang orang tua. Melihat wajah-wajah polos itu membuat saya kembali berpikir. Sejauh ini sudahkah saya mensyukuri kehidupan saya? Orang tua masih lengkap, berkesempatan untuk menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi, masih beli ini itu meskipun masih dari pemberian orang tua, dan lain sebagainya.
Melihat tawa ceria mereka membuat hidup saya lebih terasa hidup. Berbagi kebahagiaan dengan mereka membuat kebahagiaan yang saya rasakan semakin berlipat ganda. Ada rasa tenang dan nyaman melihat mereka senyum tulus mereka. Ingin sekali menjadi bagian dari hidup mereka. Mendampingi di setiap saat mereka butuhkan, menjadi penopang ketika mereka butuh sandaran, memberikan kasih sayang di saat mereka rindu kehadiran orang yang paling mereka sayangi.  
Memang terkadang kita harus dihadapkan pada suatu hal yang meluluhlantahkan hati kita terlebih dahulu agar kita mampu mensyukuri apa yang kita miliki. Sesekali kita perlu melihat ke bawah dan melihat banyak orang yang keadaannya tak seberuntung kita. Sesekali kita perlu menengok ke kiri kanan dan melihat ada banyak orang yang tak mendapat kesempatan seperti yang kita miliki. Selalu menengok ke atas dan melihat keadaan orang yang lebih dari kita hanya akan membuat kita selalu membanding-bandingkan sehingga lupa bersyukur.


----Tantangan pekan pertama ODOP. Tema : Tentang Aku dan Pengalaman Paling Berkesan di Hidupku.----

Jumat, 22 September 2017

Evaluasi penutup hari

Menghitung dalam hati. Seberapa banyak rasa syukur untuk hari ini. Sekaligus melakukan evaluasi. Keburukan apa yang kulakukan lagi.

Manusia tempatnya salah. Dan terkadang enggan berubah. Terjebak pada kesalahan yang sama. Tidakkah aku lelah?

Jatuh. Lalu tersadar dan menangis pilu. Membuat hatiku seperti disayat sembilu. Apakah Tuhan akan mengampuniku?

Berjalan perlahan. Menjauhi keburukan. Namun, ia berlari dan terus mendekat. Menggoda dengan dahsyat.

Berlari sekuat tenaga. Memutar arah. Namun, ia mengikuti dari berbagai arah. Membuatku terjatuh dan kalah.

Tuhan. Ijinkan diri yang teramat hina. Untuk kesekian kalinya bersimpuh. Berharap ampunan-Mu.

Kamis, 21 September 2017

Harus bagaimana?

Sungguh. Aku tak mau lagi. Tapi, kenapa kamu terus menghantui. Membuatku susah pergi. Ingin berlari. Namun, berhenti lagi. Ingin melangkah pergi diam-diam. Lagi-lagi kamu menghadang. 

Kamu seperti racun yang terlanjur kutelan. Dibiarkan pasti membuatku mati perlahan. Bagaimana dengan penawar? Apakah dijamin tidak akan menyisakan lara? Sepertinya aku tidak ingin keduanya.

Lalu, kembali aku dihadapkan pada pertanyaan. Aku harus bagaimana?  Adakah cara pergi selain berjalan atau berlari? Aku lelah namun tak ingin menyerah. Sejujurnya aku ingin tetap seperti ini. Tetapi, ini menyakitkan.

Seperti membiarkan tanganku menggenggam bara api. Lama kelamaan membakar seluruh tubuhku. Namun, tak mudah pula melepaskan genggaman itu. Ada kehangatan yang enggan kulepaskan.

Pertanda. Aku menunggu pertanda darimu. Haruskah aku disini? Atau haruskah aku melangkah pergi? 

Lagi-lagi. Aku bertanya. Aku harus bagaimana?

Rabu, 20 September 2017

Berbenah

Tidak mungkin selamanya kita akan berada di ruang yang sama..
Waktu terus berjalan, keadaan terus berganti..
Kita harus berpindah meski hanya satu langkah..
Kita harus berubah meski hanya dengan satu gerak..

Berusaha berbenah diri meski dengan perasaan terpaksa..
Setidaknya berusaha meski pelan-pelan..
Setidaknya berupaya meski akan membutuhkan waktu yang lama..
Akan terasa buah manisnya nanti setelah kita lelah berjuang..

Selasa, 19 September 2017

Ketika Lelah dan Ingin Menyerah

Ketika lelah dan ingin menyerah..
Ingat kamu sudah jauh melangkah..
Jangan mudah goyah..
Agar jalanmu tetap terarah..

Perjalanan ini memang tidak mudah dilalui..
Coba ingatlah lagi..
Niat yang telah kau tancap dalam hati..
Tekad untuk berjuang hingga nanti..

Jangan biarkan hatimu merapuh..
Hanya karena masalah setitik peluh..
Ini semua agar kamu menjadi tangguh..
Menjadi pribadi yang tidak mudah jatuh..

One day one post : Konsisten Menulis

         Sehari menghasilkan suatu tulisan. Suatu hal yang terlihat mudah dan ringan diucapkan. Namun, kenyataannya banyak yang menganggap membuat tulisan satu tulisan per hari adalah hal yang sulit. Bahkan konsisten seminggu sekali pun belum tentu mampu. Apalagi bagi orang yang menjadikan kesibukan sebagai alasan. Belum lagi alasan lain berupa tidak adanya inspirasi. Oleh karena itu, kita memerlukan sebuah wadah agar termotivasi untuk konsisten menulis.
One day one post adalah sebuah komunitas dimana setiap anggotanya harus memposting satu tulisan per hari. Saya melihat komunitas ini dapat menjadi solusi bagi setiap orang yang berkeinginan menjadi penulis namun belum konsisten menulis. Kita akan “dipaksa” untuk mau dan mampu mencurahkan buah pemikiran dalam satu bentuk tulisan setiap hari.
Menulis itu seperti halnya ketrampilan lain yang perlu dibiasakan. Saya kembali ingat wejangan salah satu teman di sebuah komunitas “bahwa seseorang dikatakan ahli dalam suatu bidang ketika sudah melalui 10.000 jam dalam bidang tersebut”. Pertanyaan yang muncul adalah sudah berapa lama kita menekui bidang kepenulisan ini. Sudah seberapa banyak waktu yang kita curahkan untuk mendedikasikan diri menjadi seorang penulis.


#Tulisan ini murni sebagai pelecut bagi diri saya agar konsisten menulis. Berdasarkan pengalaman pribadi, ketika kita lama meninggalkan kebiasaan menulis maka kita harus mulai membiasakan dari awal lagi. Kalimat “bisa karena terbiasa” memang benar adanya. Agar menulis menjadi suatu  kebiasaan, kita perlu melakukannya secara konsisten.#

Rabu, 13 September 2017

Senjapun Berlalu

Seperti senja yang pasti berlalu..
Pun begitu dengan kecewa, sedih dan luka..
Ia pasti akan segera berujung..
  Karena waktu telah berjanji menyembuhkan..

Seperti pagi yang akan menjelang..
Membawa harapan baru..
Kembali bangkit dan percayalah..
Semua akan membaik seiring berjalannya waktu..
Angkat kepalamu dan jangan takut..
Dirimu berhak untuk berbahagia..
Lihatlah sekitar dan lukis lagi senyummu..
Masih banyak orang baik yang ingin melihatmu ceria.. 

Bersyukur menatap hari baru..
Bersiap untuk berbenah dan memperbaiki diri....


Selasa, 05 September 2017

Aku kapan?

Melihat teman yang baru saja menikah, seringkali pertanyaan yang terbersit adalah "Aku kapan?". Seringkali pertanyaan ini terus menghantui berhari-hari setelahnya. Terlupa bahwa menikah itu butuh kesiapan. Kesiapan itu tak hanya tentang siapa jodohnya, bagaimana konsep walimatul ursy'nya, berapa biayanya, atau kapan akad nikahnya. Lebih dari itu, menikah itu butuh kesiapan mental dan kedewasaan. Butuh kesabaran ekstra karena menikah bukan hanya tentang bahagia. Butuh komitmen tinggi karena menikah adalah tentang mengesampingkan ego pribadi. Butuh ilmu karena menikah bukan hanya tentang nafsu.

Senantiasa memperbaiki diri adalah satu satu cara terbaik untuk menyambut datangnya jodoh, menanti akad nikah yang akan menggetarkan arsy-Nya. Yakin jodoh terbaik akan hadir dengan cara terbaik menurut Allah..
Melihat teman yang baru saja menikah, seringkali pertanyaan yang terbersit adalah "Aku kapan?". Seringkali pertanyaan ini terus menghantui berhari-hari setelahnya. Terlupa bahwa menikah itu butuh kesiapan. Kesiapan itu tak hanya tentang siapa jodohnya, bagaimana konsep walimatul ursy'nya, berapa biayanya, atau kapan akad nikahnya. Lebih dari itu, menikah itu butuh kesiapan mental dan kedewasaan. Butuh kesabaran ekstra karena menikah bukan hanya tentang bahagia. Butuh komitmen tinggi karena menikah adalah tentang mengesampingkan ego pribadi. Butuh ilmu karena menikah bukan hanya tentang nafsu.

Senantiasa memperbaiki diri adalah satu satu cara terbaik untuk menyambut datangnya jodoh, menanti akad nikah yang akan menggetarkan arsy-Nya. Yakin jodoh terbaik akan hadir dengan cara terbaik menurut Allah..

Terlambat Menyadari

Terkadang kita abai, acuh pada seseorang yg ada di dekat kita.
Tanpa kita sadari tangan, mulut, dan sikap selalu menyakiti.
Mempertahankan ego dan mengacuhkan kebahagiaan bersama.
Apa yang kita lakukan perlahan membuat ia menjauh lalu pergi.

Padahal ia orang yang selalu ada.
Ia orang yg selalu mengerti.
Ia orang yg menerima keadaan kita.
Menerima semuanya dengan sepenuh hati.

Lalu.
Penyesalan, penyesalan, dan penyesalan akan menghantui hidup kita.
Karena telah mempertahankan ego yg tidak pada tempatnya.
Semuanya telah berlalu dan tidak lagi bisa diperbaiki.

Akhirnya.
Semua telah usai dan kita benar-benar terlambat menyadari
bahwa ia orang yang tepat.
Ia orang yang sangat mau mengerti semua ketidaksempurnaan kita.