Kamis, 23 Agustus 2018

Aku dan Kenanganku yang Berkesan : Jas Hujan Tak Terduga

Musim hujan terakhir kali membuatku sedikit kewalahan karena bertepatan dengan banyaknya kegiatan yang aku ikuti di kampus maupun luar kampus. Seringkali nekat memutuskan pergi sebelum jas hujan sempat kering setelah menerjang hujan deras hari sebelumnya. Bahkan helm basah kuyup dan aku baru sadar ketika akan menggunakan.

Suatu siang masih di bulan yang sama terasa berbeda. Matahari terasa terik menyengat kulit. “Alhamdulillah. Jas hujannya kering deh nanti”, pikirku sebelum berangkat. Melihat matahari bersinar terik membuatku percaya diri menuju kampus tanpa membawa jas hujan. Baru setengah perjalanan menuju tempat tujuan, hujan turun dengan deras. Aku berteduh di depan teras toko. Aku tidak sendiri. Di tempat tersebut terdapat beberapa orang yang berteduh. “Pasti mereka juga mengira hari ini tidak akan turun hujan”, pikirku.

Tak jauh dari tempatku berdiri, terlihat ayah dan anak yang terlihat berdiskusi sembari sesekali melihat ke arahku. Aku merasa tidak enak. “Apa ada yang salah denganku?”, sembari memperhatikan barangkali ada yang terlihat aneh pada apa yang melekat di badanku. “Ah, mungkin perasaanku saja”, aku meyakinkan diri.

Tak lama kemudian ku lihat sang Ayah pergi mengendarai sepeda motor dengan menggunakan jas hujan yang diambil dari jok motornya. Putrinya yang terlihat seumuran denganku berdiri tak jauh dari dariku. Sekilas ku lihat dia sedang memperhatikan layar handphone. Sekitar lima belas menit kemudian, sang ayah datang memberikan sebuah bungkusan berwarna hitam sembari mengatakan sesuatu yang tiidak terdengar olehku. Sang anak segera membuka bungkusan yang ternyata berisi jas hujan berwarna merah dan segera memakainya.

 “Mbak”, terdengar sapaan seorang lelaki. “Iya”, jawabku menoleh ke arah suara. Tak ku sangka ayah sang anak tadi menyodorkan bungkusan kantong berwarna hitam. Belum sempat aku bertanya apa isi bungkusan tersebut, beliau mengatakan “Ini jas hujan, mbak”. Aku terkejut dan dengan spontan menolak, “Nggak apa-apa, pak. Saya nunggu hujannya reda saja.”. “Dipakai saja, mbak..ini masih ada satu, saya tadi membelikan anak saya juga”. “Wah, terima kasih banyak, pak” ku terima jas hujan polos berwarna biru muda tersebut.

            Masya Allah.. Terharu dan tidak bisa berkata-kata. Semoga Allah membalas kebaikan Ayah dan anak tersebut. J