Sungguh. Aku tak mau lagi. Tapi, kenapa kamu terus menghantui. Membuatku susah pergi. Ingin berlari. Namun, berhenti lagi. Ingin melangkah pergi diam-diam. Lagi-lagi kamu menghadang.
Kamu seperti racun yang terlanjur kutelan. Dibiarkan pasti membuatku mati perlahan. Bagaimana dengan penawar? Apakah dijamin tidak akan menyisakan lara? Sepertinya aku tidak ingin keduanya.
Lalu, kembali aku dihadapkan pada pertanyaan. Aku harus bagaimana? Adakah cara pergi selain berjalan atau berlari? Aku lelah namun tak ingin menyerah. Sejujurnya aku ingin tetap seperti ini. Tetapi, ini menyakitkan.
Seperti membiarkan tanganku menggenggam bara api. Lama kelamaan membakar seluruh tubuhku. Namun, tak mudah pula melepaskan genggaman itu. Ada kehangatan yang enggan kulepaskan.
Pertanda. Aku menunggu pertanda darimu. Haruskah aku disini? Atau haruskah aku melangkah pergi?
Lagi-lagi. Aku bertanya. Aku harus bagaimana?
pertanda itu akan datang, dan ia akan melapangkan
BalasHapusdan kapan datangnya masih menjadi misteri..semoga tidak lama.. 😆
Hapusdengarkan intuisimu...
BalasHapusSiap mendengarkan dorongan hati.. 🤗
HapusCoba ngobrol sama Yang Maha Mengetahui kak :)
BalasHapusGood idea, kak..🤗
Hapus