Jumat, 23 Februari 2018

Secangkir Kopi Pagimu

Kopi. Minuman favoritmu. Entah sudah berapa jenis seduhan kopi yang coba hingga kini. Kopi yang dibuat ibumu dirumah, kopi di warung sebelah asrama hingga kopi di coffe shop dengan harga yang tentu tidak murah.

“Kamu suka kopi?” tanyaku setelah beberapa kali melihat foto profil dan status media sosialmu adalah secangkir kopi dengan bebrabagi jenis cangkir angel foto yang berbeda.
“Iya. Biar lebih semangat”, katamu.
“Oh.”  Jawabku singkat.
“Kamu nggak suka kopi?” kamu bertanya.
Nggak terlalu. Tapi, nggak anti juga sih. Kalau ada pilihan minuman lain, mending aku milih yang lain..hehe.” Kataku.

Kopi. Minuman rakyat. Banyak yang suka. Murah dan bikin melek katanya. Aku suka. Tapi, dicampur susu. Itupun dikala mata sudah berat namun kerjaan tak mengiinkanku tidur barang sebentar. Barangkali kopi menjadi pilihan terakhirku.

Sejak obrolan singkat kita tentang kopi itu, kuliihat kamu lebih sering mengganti display picturemu dengan foto secangkir kopi. Sesekali dengan tambahan kalimat motivasi. Bahkan kamu sering mengirimiku foto secangkir kopi yang sedang kamu minum.

“Kopi lagi?”, balasku pada foto yang baru saja kamu kirimkan.
“Iya. Kan minuman favoritku. Biar melek dan semangat menjalani hari ini.” Katamu seperti mencoba meyakinkanku bahwa kopi itu bermanfaat.
“Oh gitu. Tapi, kan kafeinnya tinggi. Kenapa nggak minum air putih aja.” Aku mencoba memengaruhimu bahwa minum air putih lebih baik.
“Ya, minum air putih juga. Kopi sehari dua kali aja palingan.” Kamu membela.
“Dua kali sehari mah bisa diitung sering.”  Aku mulai ngeyel. Berharap kamu mengerti.
“Ya, nggak apa-apa kan. Banyak yang bilang terlalu sering minum kopi itu bahaya, kafeinnya tinggi. Tapi, mereka masih sering minum yang lain juga, minuman bersoda macam fa*ta, spr*te, minum teh padahal mengandung kafein juga, ada lagi yang masih minum minuman instan yang nggak kalah bahayanya sama kopi :).” Balasmu panjang lebar kali ini.
“Eh iya juga ya. Aku suka minum teh. Padahal aku juga tahu kalau banyak juga nggak bagus..hehe.” Kataku. Mulai berpikir tentang segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.
“Nah, itu dia. Kita seringkali menutup pada satu hal dengan mengabaikan hal yang lain.” Katamu menjadi kalimat penutup obrolan kita tentang kopi hari ini.

Terimakasih untuk inspirasi pagi dari secangkir kopimu. Mengingatkanku untuk melihat dunia ini lebih luas. 

-Kos Nuha, ditemani secangkir kopi susu,-

Kamis, 22 Februari 2018

Bagaimanapun, terimakasih..

Untuk kamu..
Terimakasih karena ada di dunia..
Terimakasih karena mau hadir di kehidupanku..
Terimakasih karena telah memberi secuil asa di hatiku..
Terimakasih karena memutuskan pergi di tengah pengharapanku..
Terimakasih karena akhirnya hilang dari hari-hariku..
Apapun yang terjadi pada diriku setelah kehadiran dan kepergianmu yang semuanya nyata tidak pernah kusangka..
Butiran-butiran kejadian berupa harapan, kebahagiaan, senyuman, asa, bahkan luka dan kecewa..
Semuanya penuh dengan pelajaran..
Seperti katamu, berharap hanya pada Allah..
Ya, aku tahu berharap pada manusia seringkali berakhir dengan kekecewaan..
Seperti tentang aku dan kamu..
Semuanya berlalu..
Begitu saja..
Sekali lagi..

Terimakasih, kamu..:’)

Sabtu, 14 Oktober 2017

Ketika Wanita Jatuh Cinta



             Kamu wanita dan pernah jatuh cinta? Kalau iya dan sudah pernah jatuh cinta, pasti kamu akan merasa dia ada dimana-mana. Seperti menghantui. Mengganggu pikiran. Selalu ada namanya. Selalu seperti mendengar suaranya. Selalu seperti mendengar derap langkahnya. Selalu seolah melihat dirinya. Selalu mencari cara untuk bertemu seolah pertemuan yang tidak sengaja. Selalu mencari alasan untuk bisa menghubunginya.
            Buka artikel, cerpen, novel, atau tulisan lainnya pasti tetiba ada nama si doi disana. Padahal sebelum menaruh hati pada si dia, pasti nama itu terlihat biasa saja. Meskipun, muncul di setiap halaman kertas yang kamu buka. Meskipun, ada di setiap tulisan yang kamu baca. Pastiiii.
              Menonton televisi. Nama tokoh utama sinetron yang kamu tonton adalah nama si doi. Kamu tersenyum. Dalam hati muncul suatu kalimat, "Mungkin ini yang namannya jodoh". Muncul bunga-bunga di pikiranmu. Kamu merasa bahagia.
            Ketika di tempat parkir melihat motor yang mirip punya si doi. Kamu berpikir, “Jangan-jangan dia juga disini”. Sampai kamu lihat itu kode plat nomor untuk kota lain bukan kode plat nomor motor si doi. Lalu, kamu sedikit kecewa.
            Mungkin juga kamu hafal suara motornya. Kamu menyetir motor dan mendengar suara motor yang mirip dengan suara motor si doi. Lalu, kamu melirik dan ternyata si pengendara bukanlah orang yang kamu harapkan. Ah, lagi-lagi hanya motor yang mirip.
            Di suatu tempat, katakanlah rumah makan yang mungkin menjadi tempat langganan si dia. Lalu, kamu makan dan terlihat ada sesosok yang berkelebat. Mirip dia. Kamu bisa melihat punggungnya. Dia berbalik dan kamu harus menelan pil kekecewaan. Ternyata hanya postur tubuh yang mirip.
            Kamu tahu suatu tempat yang sering dikunjunginya. Kos teman si doi. Tanpa alasan, kamu sengaja lewat kos itu padahal kamu bisa lewat jalan lain yang lebih dekat. Kamu menutup kaca helm dan ketika sampai di depan TKP (tempat kejadian perkara), kamu melirik ke arah kos dan berharap dia sedang mengobrol dengan temannya. Namun, hanya rumput ilalang yang menyapa.
            Suatu ketika juga, kamu punya informasi suatu seminar. Karena kamu tidak mau memulai pembicaraan, sengaja kamu kirim informasi tersebut ke si doi. Kamu berharap itu bisa menjadi awal pembicaraan. Ternyata, dia hanya merespon dengan, “Terima kasih informasinya”. Kamu hanya membalas dengan J.
            Akhirnya, kamu sadar semua itu mulai mengganggu hari-harimu. Padahal, dia bukanlah siapa-siapamu dan bahkan kamu bukan siapa-siapa baginya. Kamu mulai berpikir, “Sepertinya aku harus diruqyah”. Padahal itu semua hanyalah alam bawah sadarmu yang terlalu memikirkannya. Terlalu berharap pada si dia. Padahal, belum tentu lho si doi merasakan hal yang sama. Mungkin saja si dia baik pada semua orang dan kamu mengira dia menspesialkanmu. Padahal, tidak.
            Hei, ubah cara pikirmu! Jangan sampai dia menyita sebagian besar waktumu. Kamu harus mampu menguasai dirimu sendiri. Jangan biarkan dia menguasai dirimu hingga kamu tidak bisa berpikir secara benar dan apa yang menjadi kewajibanmu terbengkalai.

#tulisan random untuk yang berharap pada yang belum halal.