Kamu
wanita dan pernah jatuh cinta? Kalau iya dan sudah pernah jatuh cinta, pasti
kamu akan merasa dia ada dimana-mana. Seperti menghantui. Mengganggu pikiran. Selalu
ada namanya. Selalu seperti mendengar suaranya. Selalu seperti mendengar derap
langkahnya. Selalu seolah melihat dirinya. Selalu mencari cara untuk bertemu
seolah pertemuan yang tidak sengaja. Selalu mencari alasan untuk bisa
menghubunginya.
Buka artikel, cerpen, novel, atau
tulisan lainnya pasti tetiba ada nama si doi disana. Padahal sebelum menaruh
hati pada si dia, pasti nama itu terlihat biasa saja. Meskipun, muncul di
setiap halaman kertas yang kamu buka. Meskipun, ada di setiap tulisan yang kamu
baca. Pastiiii.
Menonton televisi. Nama tokoh utama sinetron yang kamu tonton adalah nama si doi. Kamu tersenyum. Dalam hati muncul suatu kalimat, "Mungkin ini yang namannya jodoh". Muncul bunga-bunga di pikiranmu. Kamu merasa bahagia.
Ketika di tempat parkir melihat
motor yang mirip punya si doi. Kamu berpikir, “Jangan-jangan dia juga disini”.
Sampai kamu lihat itu kode plat nomor untuk kota lain bukan kode plat nomor
motor si doi. Lalu, kamu sedikit kecewa.
Mungkin juga kamu hafal suara
motornya. Kamu menyetir motor dan mendengar suara motor yang mirip dengan suara
motor si doi. Lalu, kamu melirik dan ternyata si pengendara bukanlah orang yang
kamu harapkan. Ah, lagi-lagi hanya motor yang mirip.
Di suatu tempat, katakanlah rumah
makan yang mungkin menjadi tempat langganan si dia. Lalu, kamu makan dan
terlihat ada sesosok yang berkelebat. Mirip dia. Kamu bisa melihat punggungnya.
Dia berbalik dan kamu harus menelan pil kekecewaan. Ternyata hanya postur tubuh
yang mirip.
Kamu tahu suatu tempat yang sering
dikunjunginya. Kos teman si doi. Tanpa alasan, kamu sengaja lewat kos itu
padahal kamu bisa lewat jalan lain yang lebih dekat. Kamu menutup kaca helm dan
ketika sampai di depan TKP (tempat kejadian perkara), kamu melirik ke arah kos
dan berharap dia sedang mengobrol dengan temannya. Namun, hanya rumput ilalang
yang menyapa.
Suatu ketika juga, kamu punya
informasi suatu seminar. Karena kamu tidak mau memulai pembicaraan, sengaja
kamu kirim informasi tersebut ke si doi. Kamu berharap itu bisa menjadi awal
pembicaraan. Ternyata, dia hanya merespon dengan, “Terima kasih informasinya”.
Kamu hanya membalas dengan J.
Akhirnya, kamu sadar semua itu mulai
mengganggu hari-harimu. Padahal, dia bukanlah siapa-siapamu dan bahkan kamu
bukan siapa-siapa baginya. Kamu mulai berpikir, “Sepertinya aku harus diruqyah”. Padahal itu semua hanyalah alam
bawah sadarmu yang terlalu memikirkannya. Terlalu berharap pada si dia.
Padahal, belum tentu lho si doi merasakan hal yang sama. Mungkin saja si dia
baik pada semua orang dan kamu mengira dia menspesialkanmu. Padahal, tidak.
Hei, ubah cara pikirmu! Jangan
sampai dia menyita sebagian besar waktumu. Kamu harus mampu menguasai dirimu
sendiri. Jangan biarkan dia menguasai dirimu hingga kamu tidak bisa berpikir
secara benar dan apa yang menjadi kewajibanmu terbengkalai.
#tulisan
random untuk yang berharap pada yang
belum halal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar