Sabtu, 14 Oktober 2017

Persahabatan Ikan Sura dan Buaya



         Dahulu kala terdapat lautan luas yang berwarna biru bersih. Daerah ini terkenal dengan kekayaan lautnya. Hewan dan tumbuhan laut berkembang sangat banyak dan sehat. Daerah ini aman dan tenteram hingga datanglah dua hewan buas yaitu ikan sura (hiu) dan buaya.
            Kedua hewan ini saling adu kekuatan untuk merebut laut yang belum bernama tersebut. Ikan sura dan buaya sama-sama angkuh dan tidak mau mengalah. Setiap hari keduanya terlibat perkelahian sengit. Perkelahian tersebut berlangsung lama karena tidak ada yang benar-benar kalah.
            “Buaya, aku raja lautan. Kenapa kamu tidak mengalah saja?” tanya ikan hiu.
            “Aku mampu hidup di dua dunia sedangkan kamu tidak saja. Kenapa tidak kamu saja yang mengalah?” tanya buaya balik kepada ikan sura.
            “Maka, kita lanjutkan saja perkelahian ini hingga salah satu di antara kita mati.” Kata ikan sura dengan angkuh.
            “Memang itu yang aku mau. Aku yakin aku yang akan memenangkan pertarungan ini.” Kata buaya dengan yakin sembari membusungkan dada.
            Keduanya sama-sama cerdik dan kuat. Pertarungan panjang terjadi antara keduanya. Saling menerkam. Hingga suatu ketika mereka lelah saling bertarung dan membuat kesepakatan. Keduanya membuat perjanjian untuk membagi wilayah kekuasaan.
            “Aku tidak sanggup lagi.” Kata keduanya bersamaan.
            “Bagaimana kalau kita berdamai?” Ikan sura menawarkan perdamaian.
            “Baiklah, kita harus membuat perjanjian.” Jawab buaya sembari mengobati luka.
            “Baiklah, buaya. Kita buat kesepekatan. Kamu hanya boleh mengambil mangsa hingga setengah lautan ini sedangkan setengahnya lagi adalah daerah kekuasaanku.” Ikan memberikan usul pembagian wilayah.
            “Ya, aku setuju. Kita sepakat. Jangan curang dan saling menghianati.” Buaya menjulurkan tangan tanda kesepakatan.
            “Baiklah. Kita sepakat.” Ikan sura menyambut tangan buaya.
            Namun, beberapa waktu setelah dijalankannya perjanjian ikan-ikan yang berada di daerah kekuasaan ikan sura mulai habis. Diapun diam-diam mencari mangsa di daerah kekuasaan buaya. Kecurangan tersebut tidak diketahui oleh ikan buaya.
            Suatu ketika salah satu ikan sura muda melapor kepada buaya mengenai kecurangan yang dilakukan oleh ikan sura penguasa laut tengah.
            “Buaya, aku punya suatu rahasia.” Kata ikan sura muda kepada buaya.
            “Rahasia apa?” Buaya bertanya pada ikan sura muda.
            “Ikan sura mencurangimu. Dia mencari mangsa di daerah kekuasaanmu.” Ikan sura muda berbicara dengan berbisik.
            “Tidak mungkin. Kita telah sepakat untuk tidak mencurangi satu sama lain.” Buaya tidak mempercayai perkataan ikan sura muda.
            Karena penasaran dengan perkataan ikan sura muda, buaya pun mulain mengintai diam-diam. Siang malam. Hingga buaya memergoki ikan sura mengejar ikan kecil di daerah kekuasannya. Perkelahian pun tidak terhindarkan lagi. Mereka saling menerkam dan menggigit. Pertarungan lebih hebat dari pertarungan sebelum perjanjian disepakati. Buaya merasa tidak terima dengan kecurangan dan merasa dihianati oleh perbuatan ikan sura sedangkan ikan sura juga tidak terima karena merasa mangsa di daerah kekuasannya amat sedikit dan tidak mencukupi kebutuhannya.
            Pertarungan berlangsung lama hingga berdarah-darah. Ikan sura menggigit ekor buaya sehingga ekor buaya bengkok ke kiri. Sebaliknya, buaya juga menggigit ekor ikan sura hingga hampir putus. Keduanya menghentikan pertarungan setelah sama-sama terluka sangat parah. Akhirnya ikan sura mengaku kalah dan kembali ke daerah kekuasaannya. Buaya merasa menang karena mampu mempertahankan daerah kekuasaan.
            Tidak berapa lama setelah pertarungan usai. Keduanya telah pulih dari luka masing-masing. Ikan sura dan buaya sama-sama mencari mangsa hingga ke batas daerah kekuasaan. Keduanya bertemu dan mengobrol.
            “Buaya, bagaimana kabarmu?” Ikan sura bertanya kabar pada buaya.
            “Baik, ikan sura. Bagaimana denganmu?” Tanya buaya kembali pada ikan sura.
            “Aku juga baik. Apakah ikan di daerah kekuasaanmu berkembang biak dengan baik?” Tanya ikan sura.
            “Ikan disini berkembang biak dengan baik. Banyak sekali hingga aku merasa terlalu banyak.” Jawab buaya.
            “Tidakkah kau ingin berbagi denganku?” Tanya ikan sura dengan mengiba.
            “Apakah ikan-ikan di daerah kekuasaanmu benar-benar tinggal sedikit?” Tanya buaya tidak percaya.
            “Iya.” Jawab ikan sura singkat.
            “Bagaimana mungkin? Daerah kekuasaanmu itu di tengah lautan. Seharusnya ikan dan hewan laut lainnya sangat banyak. Pasti kamu hanya ingin merebut daerah kekuasaanku.” Kata buaya panjang lebar sembari menatap ke lautan luas.
            “Cobalah kau lihat sendiri.” Ikan sura mulai gusar.
            “Baiklah. Berarti aku harus masuk ke daerah kekuasaanmu. Apakah tidak apa-apa?” Tanya buaya pada ikan sura.
            “Tidak apa-apa, buaya.” Ikan sura menarik tangan buaya untuk masuk ke daerah kekuasaannya.
            “Kenapa tidak terlihat ikan sama sekali?” Buaya keheranan.
            “Aku juga tidak tahu,buaya.” Kata buaya dengan muka memelas.
            Keduanya terlihat berpikir keras. Buaya menghadap ke lautan luas sedangkan ikan sura berenang di sekitar buaya. Mereka sama-sama memikirkan solusi untuk permasalahan yang sedang dihadapi ikan sura. Buaya merasa iba dengan apa yang sedang dihadapi ikan sura.
            “Begini saja, ikan sura. Bagaimana kalau kita hentikan kesepakatan yang telah kita buat.” Buaya berkata tiba-tiba.
            “Apa maksudmu kita harus bertarung lagi?” Ikan sura bertanya dan bersiap menyerang buaya.
            “Tenang dulu, ikan sura. Aku tidak bermaksud mengajak bertarung.” Buaya berkata pelan-pelan.
            “Lalu apa?” Tanya ikan sura.
            “Aku ingin kita membuat kesepakatan baru.” Pikiran Buaya terlihat menerawang jauh ke awan.
            “Kesepakatan? Kesepakatan apa lagi” Tanya ikan sura dengan tidak sabar.
            “Begini. Mungkin kita bisa saling berbagi. Kita tidak perlu membagi lautan luas ini menjadi dua. Kita jadikan ini milik kita.” Buaya menghentikan perkataannya sembari membuka mulutnya dan menangkap ikan kecil yang berada di dekatnya.
            “Lalu?” Tanya ikan sura lagi.
            “Ya, kita tidak perlu saling merebut. Kita juga tidak perlu saling bertarung. Juga kamu tidak perlu mencuri mangsa di daerah kekuasaanmu ketika hewan mangsa di daerah kekuasanmu telah menipis. Bagaimana?” Jelas buaya panjang lebar.
            “Baik. Aku setuju.” Jawab ikan sura sembari mengulurkan tangan tanda sepakat.
            Akhirnya keduanya bersalaman dan sepakat. Adanya perjanjian tersebut menjadikan keduanya bersahabat. Mereka tidak pernah berkelahi lagi. Persahabatan mereka semakin erat.       “Ikan sura, daerah ini belum bernama. Bagaimana kalau kita memberi nama sebagai tanda persahabatan kita?” Buaya membuka percakapan di sore itu.
            “Oh iya. Kenapa tidak berpikiran begitu ya? Baiknya daerah ini kita beri nama apa?” Ikan buaya terlihat berpikir.
            “Bagaimana kalau gabungan nama kita?” Buaya memberikan usul.
            “Suraaaa..” Ikan sura meletakkan ujung telunjuk tangannya ke kepala sebagai tanda berpikir.
            “Bayaa.. Bagaimana kalau surabaya? Terlihat bagus.” Kata buaya.
            “Baiklah. Kita sepakati nama daerah ini surabaya ya. Tidak hanya lautan ini. Tapi, juga daratan yang berada di dekat laut ini. Deal, ya. Surabaya.” Ikan sura terlihat sangat senang.
            Persahabatan mereka berlanjut hingga mereka tua dan mati. Nama surabaya berlanjut hingga generasi-generasi setelah mereka. Untuk mengenang persahabatan mereka, generasi cucu mendirikan patung ikan sura dan buaya yang terlihat merangkul bahu satu sama lain. J
           

Referensi : www.dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-jawa-timur-asal-usul-kota-surabaya/ dengan tambahan imajinasi penulis blog ini.



--Tantangan ODOP pekan ketiga—
Tulis ulang cerita rakyat lalu ubah ending-nya sesuai imajinasi kalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar