Jumat, 13 Oktober 2017

Cerita kos Nuha ke Jogja (Part 1)

Hari ini di kos kebanggaan kami, Kos Nuha, kami memasak bersama untuk menyambut Hari Raya Idul Adha besok. Jauh dari keluarga dan kampung halaman tentu saja membuat kami sedih. Tetapi, kami bersyukur karena kos ini adalah keluarga dan rumah kedua bagi kami. Lebih dari sekedar rumah kos. Kami sudah seperti keluarga dan saudara. Dari 14 penghuni kos ini, tinggal kami berenam yang tidak pulang. Selain rumah kami jauh, juga karena ada kegiatan yang tidak bisa ditinggal.
Kepala koki kami hari ini adalah Syita yang berasal dari kota Tanjungpinang. Dia akan membuatkan kami nasi lemak, telur bumbu asam pedas dan kering tempe. Kami berlima hanya manggut-manggut setuju karena memang hanya Syita yang paling jago masak di antara kami. Kami tetap mengatakan ini masak bersama karena kami semua ikut turun ke dapur meskipun hanya membantu memotong sayuran, mengupas bawang, menuang air, mengulek bumbu dan hal kecil lainnya. Hahaha.
Setelah masakan siap, kami segera berkumpul di ruang tengah sekaligus ruang televisi untuk makan. Di sela-sela makan biasanya kami membicarakan banyak hal. Mulai dari yang penting sampai yang tidak penting. Hingga sampai pada topik yang biasanya hanya sekedar wacana.
“Besok ke Jogja yuk,” kata Ica tiba-tiba.
“Besok? Besok banget ini? Serius nggak?. Biasanya juga wacana,” kataku bersemangat sekaligus sangsi.
‘Iya, Mbak Ris. Abis sholat Idul Adha. Sama ada beberapa temen yang mau ikut juga,” sahut Syita.
“Siapa?”, tanyaku lagi
“Mbak Fitri sama Wiwik kalau jadi,” jawab Ica.
“Oh. Ehm, aku pikir-pikir dulu dech. Btw, kalian udah pernah ke Museum Benteng Vredeburg belum?” Tanyaku sambil meminum es degan.
“Dimana tu, mbk?” Ina balik bertanya sembari membenahi posisi duduknya.
“Di sekitar malioboro kan, mbak. Bagus dan murah. Tiket masuknya cuma 2 ribu kalau belum naik sich,” kata Syita.
“Iya, bener yang di Malioboro itu. Aku baru sekali kesana dan pengen lagi. Bagus,” kataku.
“Tapi besok buka nggak mbak? Kan hari libur nasional,” tanya Ica.
“Harusnya sich buka. Kalau museum-museum gitu kan biasanya liburnya Hari Senin,” kataku sok tahu.
“Oh gitu ya, mbak.” Jawab mereka serempak.
“Oke, besok ke stasiun jam 9-nan ya. Kereta ke Jogja setelah Sholat Idul Adha jam 9.45. Kita sarapan dulu di kos. Besok tiketnya dibeliin Ina.” Kata syita
            Keesokan harinya selesai Sholat Idul Adha, kami menyantap sarapan sembari menonton televisi. Sekitar jam 9 kurang Syita, Ina, dan Delia berangkat ke stasiun terlebih dahulu untuk membeli tiket.
“Ntar berangkatnya jangan mepet-mepet.” Pesan Syita sebelum berangkat.
Sedangkan, kami (aku, Ica, dan Ilmi) berangkat nanti sekitar jam 9 lebih padahal kami bertugas untuk membelikan bekal makanan. Tidak terasa jarum jam sudah di angka 9.15, kami bertiga baru selesai bersiap dan langsung menuju salah satu tempat makan yang kita rencanakan. Sesampainya disana ternyata tutup dan kami langsung menuju tempat lain yang menjadi alternatif. Bekal sudah ditangan dan kami pun langsung berangkat. Belum sampai setengah perjalanan, aku melihat jam tangan. Sudah jam 9.30.
“Cepet banget.’’ Batinku. Langsung aku gas motor dengan kecepatan sedang. Tidak memungkinkan untuk ngebut karena jalanan lumayan padat. Perjalanan masih lumayan jauh, mungkin memerlukan waktu sekitar 10 menit. Belum lagi ada beberapa traffic light yang harus kita lewati. Sesampainya di stasiun, kami tidak sempat melihat telepon genggam maupun jam tangan. Tempat parkir penuh dan kami kebingungan meletakkan motor. Akhirnya, kami harus maju mundurin motor, geser kesana kemari. Setelah berhasil memarkir motor, kami segera berlari menuju pintu masuk stasiun. Perasaanku mulai tidak enak ketika petugas stasiun menyebut kata prameks “prambanan ekspress”, kereta yang akan kami naiki menuju jogja. Akupun segera berlari dan merogoh telepon genggam di dalam saku kecil tasku. Ternyata sudah ada beberapa panggilan tak terjawab dari Syita. Aku segera menelepon balik.
“Mbak, dimana?” kata Syita panik.
Aku yang tak kalah panik, segera berlari dengan telepon genggam di telinga.
“Ini di depan, Syita. Mau masuk. Kamu udah di kereta?” Kataku terengah-engah.
“Kereta udah mau berangkat, mbak. Cepet.” Kata syita lagi yang membuatku segera menambah kecepatan lari.
“Lumayan pagi-pagi olahraga di stasiun,” pikirku dalam hati.
Sampai di depan pintu masuk pemeriksaan tiket, bapak satpam segera menghampiri.
“Mau kemana, mbak?” Tanyanya dengan wajah antara iba dan penuh tanya
Aku menjawab sambil melihat kearah kereta prameks, “Jogja, naik prameks.”
Lalu bapak satpam kembali bertanya, ”Mbak Ica bukan?”
Aku yang merasa panik sekaligus lelah berlari mulai berpikir, “Bapak masih sempat bercanda?”. Aku lupa kalau salah satu rombongan kami bernama Ica.  Pikiranku kacau, kereta hampir berangkat sedangkan tiket kereta masih dibawa Syita. Tiba-tiba seperti ada angin semilir berhembus ketika bapak satpam bilang, “Ini tiketnya sudah disini, mbak. Tadi dititipin.”. Sambil memegang handy talkie, beliau memberi informasi kepada orang di seberang sana, “Ini tiga penumpang prameks sudah datang”.
Tanpa berpikir panjang, aku segera mengambil tiket dan menyampaikan terima kasih sembari kembali berlari. Aku tahu nggak sopan, tapi ini urgent. Kereta ada di jaur 3.kami masih harus menyeberang melewati jalur rel 1 dan 2. Jalur 3 tepat berada di tengah antara jalur 1 hingga jalur 5. Alamaak. Cobaan apa lagi ini. Kami bertiga berlari cepat. Bel kereta sudah berbunyi beberapa kali. Aku panik dan berpikir nekat. Aku naik di salah satu tempat penumpang akan naik kereta jalur 1 dan berpikir memotong jalan dengan langsung lompat dari area itu dan  langsung melewati jalur 1 dan dan jalur 2. Namun, baru sampai tangga kedua aku dipanggil panggil oleh bapak petugas yang berada di tepi peron.
“lewat sana, mbak.” Kata beliau sambil menunjuk jalan yang telah disediakan untuk menyeberang ke jalur lain. Sudah tidak terpikir malu lagi. Cuma berpikir bagaimana caranya untuk masuk ke dalam kereta secepat mungkin. Orang-orang di ruang tunggu melihat kami keheranan, mungkin juga iba. Ada tiga wanita berpakaian gamis berlari-lari tanpa etika. Entah seperti apa bentuk kami saat ini. Bahkan ada seorang ibu yang mengelus dada, menggeleng kepala sembari mengucap istighfar.
Akhirnya sampai juga kami di depan pintu kereta. Syita, Ina, dan Delia sudah menunggu di dalam kereta tepat di depan pintu gerbong paling belakang. Mereka melambaikan tangan dan bilang “Ayo cepat”. Aku bagaikan di drama korea dengan efek slow motion. Aku yang sudah lelah berlari segera mengangkat kaki untuk menaiki tangga kereta. Tapi, gagal melangkah karena terasa berat. Kakiku lelah. Beruntung temanku, Syita, tanggap dan segera meraih tanganku. Hap! Aku berhasil. Setelah kami berhasil masuk kereta, kami segera berjalan ke gerbong depan. Mencari tempat duduk. Aku sempat melihat jam tangan dan ternyata sudah jam 9.53. Orang-orang menatap kami dengan raut wajah yang susah ditebak. Mungkin mereka kasihan melihat kami sudah seperti orang dikejar setan dengan peluh sebutir jagung, baju dan jilbab yang mungkin agak kusut, kehabisan nafas, dan berjalan geleyoran karena energi kami habis. Aku melihat ada dua wanita yang seumuran denganku cekikian sambil menutup mata dengan tangan menunjuk-nunjuk ke arahku. Aku segera membenahi jilbab, merapikan baju, dan melihat tas.
“Apa ada yang aneh?”, pikirku.
 Lalu, aku melihat handphone yang masih kugenggam. Ternyata flashlight menyala dan menyoroti orang-orang yang entah sedari kapan. Benda kecil ini ku genggam sejak dari adegan lari berlari tadi. Aku segera mematikannya dan berjalan sembari menunduk. Malu.

Syukurlah kami menemukan tempat duduk meski harus berjalan sampai gerbong paling depan. Kami bertiga segera minum air mineral dan mengatur nafas. Kami mengucap syukur dalam hati. Alhamdulillah. Kami masih sempat bertawa bersama mengingat kekonyolan kami tadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar