Hari ini di kos
kebanggaan kami, Kos Nuha, kami memasak bersama untuk menyambut Hari Raya Idul
Adha besok. Jauh dari keluarga dan kampung halaman tentu saja membuat kami sedih.
Tetapi, kami bersyukur karena kos ini adalah keluarga dan rumah kedua bagi
kami. Lebih dari sekedar rumah kos. Kami sudah seperti keluarga dan saudara.
Dari 14 penghuni kos ini, tinggal kami berenam yang tidak pulang. Selain rumah
kami jauh, juga karena ada kegiatan yang tidak bisa ditinggal.
Kepala koki kami hari
ini adalah Syita yang berasal dari kota Tanjungpinang. Dia akan membuatkan kami nasi lemak, telur bumbu asam pedas dan kering tempe. Kami berlima hanya manggut-manggut setuju
karena memang hanya Syita yang paling jago masak di antara kami. Kami tetap
mengatakan ini masak bersama karena kami semua ikut turun ke dapur meskipun
hanya membantu memotong sayuran, mengupas bawang, menuang air, mengulek bumbu dan
hal kecil lainnya. Hahaha.
Setelah masakan siap,
kami segera berkumpul di ruang tengah sekaligus ruang televisi untuk makan. Di
sela-sela makan biasanya kami membicarakan banyak hal. Mulai dari yang penting
sampai yang tidak penting. Hingga sampai pada topik yang biasanya hanya sekedar
wacana.
“Besok ke Jogja yuk,”
kata Ica tiba-tiba.
“Besok? Besok banget
ini? Serius nggak?. Biasanya juga wacana,” kataku bersemangat sekaligus sangsi.
‘Iya, Mbak Ris. Abis
sholat Idul Adha. Sama ada beberapa temen yang mau ikut juga,” sahut Syita.
“Siapa?”, tanyaku lagi
“Mbak Fitri sama Wiwik
kalau jadi,” jawab Ica.
“Oh. Ehm, aku pikir-pikir
dulu dech. Btw, kalian udah pernah ke Museum Benteng Vredeburg belum?” Tanyaku
sambil meminum es degan.
“Dimana tu, mbk?” Ina
balik bertanya sembari membenahi posisi duduknya.
“Di sekitar malioboro
kan, mbak. Bagus dan murah. Tiket masuknya cuma 2 ribu kalau belum naik sich,”
kata Syita.
“Iya, bener yang di Malioboro
itu. Aku baru sekali kesana dan pengen lagi. Bagus,” kataku.
“Tapi besok buka nggak
mbak? Kan hari libur nasional,” tanya Ica.
“Harusnya sich buka.
Kalau museum-museum gitu kan biasanya liburnya Hari Senin,” kataku sok tahu.
“Oh gitu ya, mbak.”
Jawab mereka serempak.
“Oke, besok ke stasiun
jam 9-nan ya. Kereta ke Jogja setelah Sholat Idul Adha jam 9.45. Kita sarapan
dulu di kos. Besok tiketnya dibeliin Ina.” Kata syita
Keesokan
harinya selesai Sholat Idul Adha, kami menyantap sarapan sembari menonton
televisi. Sekitar jam 9 kurang Syita, Ina, dan Delia berangkat ke stasiun
terlebih dahulu untuk membeli tiket.
“Ntar berangkatnya
jangan mepet-mepet.” Pesan Syita sebelum berangkat.
Sedangkan, kami (aku, Ica,
dan Ilmi) berangkat nanti sekitar jam 9 lebih padahal kami bertugas untuk
membelikan bekal makanan. Tidak terasa jarum jam sudah di angka 9.15, kami
bertiga baru selesai bersiap dan langsung menuju salah satu tempat makan yang
kita rencanakan. Sesampainya disana ternyata tutup dan kami langsung menuju tempat
lain yang menjadi alternatif. Bekal sudah ditangan dan kami pun langsung
berangkat. Belum sampai setengah perjalanan, aku melihat jam tangan. Sudah jam
9.30.
“Cepet banget.’’ Batinku.
Langsung aku gas motor dengan kecepatan sedang. Tidak memungkinkan untuk ngebut
karena jalanan lumayan padat. Perjalanan masih lumayan jauh, mungkin memerlukan
waktu sekitar 10 menit. Belum lagi ada beberapa traffic light yang harus kita lewati. Sesampainya di stasiun, kami
tidak sempat melihat telepon genggam maupun jam tangan. Tempat parkir penuh dan
kami kebingungan meletakkan motor. Akhirnya, kami harus maju mundurin motor,
geser kesana kemari. Setelah berhasil memarkir motor, kami segera berlari
menuju pintu masuk stasiun. Perasaanku mulai tidak enak ketika petugas stasiun
menyebut kata prameks “prambanan ekspress”, kereta yang akan kami naiki menuju
jogja. Akupun segera berlari dan merogoh telepon genggam di dalam saku kecil
tasku. Ternyata sudah ada beberapa panggilan tak terjawab dari Syita. Aku segera
menelepon balik.
“Mbak, dimana?” kata
Syita panik.
Aku yang tak kalah
panik, segera berlari dengan telepon genggam di telinga.
“Ini di depan, Syita.
Mau masuk. Kamu udah di kereta?” Kataku terengah-engah.
“Kereta udah mau
berangkat, mbak. Cepet.” Kata syita lagi yang membuatku segera menambah
kecepatan lari.
“Lumayan pagi-pagi
olahraga di stasiun,” pikirku dalam hati.
Sampai di depan pintu
masuk pemeriksaan tiket, bapak satpam segera menghampiri.
“Mau kemana, mbak?” Tanyanya
dengan wajah antara iba dan penuh tanya
Aku menjawab sambil
melihat kearah kereta prameks, “Jogja, naik prameks.”
Lalu bapak satpam kembali
bertanya, ”Mbak Ica bukan?”
Aku yang merasa panik
sekaligus lelah berlari mulai berpikir, “Bapak masih sempat bercanda?”. Aku lupa
kalau salah satu rombongan kami bernama Ica. Pikiranku kacau, kereta hampir berangkat
sedangkan tiket kereta masih dibawa Syita. Tiba-tiba seperti ada angin semilir
berhembus ketika bapak satpam bilang, “Ini tiketnya sudah disini, mbak. Tadi
dititipin.”. Sambil memegang handy talkie,
beliau memberi informasi kepada orang di seberang sana, “Ini tiga penumpang
prameks sudah datang”.
Tanpa berpikir panjang,
aku segera mengambil tiket dan menyampaikan terima kasih sembari kembali
berlari. Aku tahu nggak sopan, tapi
ini urgent. Kereta ada di jaur 3.kami
masih harus menyeberang melewati jalur rel 1 dan 2. Jalur 3 tepat berada di
tengah antara jalur 1 hingga jalur 5. Alamaak. Cobaan apa lagi ini. Kami
bertiga berlari cepat. Bel kereta sudah berbunyi beberapa kali. Aku panik dan
berpikir nekat. Aku naik di salah satu tempat penumpang akan naik kereta jalur
1 dan berpikir memotong jalan dengan langsung lompat dari area itu dan langsung melewati jalur 1 dan dan jalur 2.
Namun, baru sampai tangga kedua aku dipanggil panggil oleh bapak petugas yang
berada di tepi peron.
“lewat sana, mbak.” Kata
beliau sambil menunjuk jalan yang telah disediakan untuk menyeberang ke jalur
lain. Sudah tidak terpikir malu lagi. Cuma berpikir bagaimana caranya untuk masuk
ke dalam kereta secepat mungkin. Orang-orang di ruang tunggu melihat kami
keheranan, mungkin juga iba. Ada tiga wanita berpakaian gamis berlari-lari
tanpa etika. Entah seperti apa bentuk kami saat ini. Bahkan ada seorang ibu
yang mengelus dada, menggeleng kepala sembari mengucap istighfar.
Akhirnya sampai juga
kami di depan pintu kereta. Syita, Ina, dan Delia sudah menunggu di dalam
kereta tepat di depan pintu gerbong paling belakang. Mereka melambaikan tangan
dan bilang “Ayo cepat”. Aku bagaikan di drama korea dengan efek slow motion. Aku yang sudah lelah
berlari segera mengangkat kaki untuk menaiki tangga kereta. Tapi, gagal melangkah
karena terasa berat. Kakiku lelah. Beruntung temanku, Syita, tanggap dan segera
meraih tanganku. Hap! Aku berhasil. Setelah kami berhasil masuk kereta, kami segera
berjalan ke gerbong depan. Mencari tempat duduk. Aku sempat melihat jam tangan
dan ternyata sudah jam 9.53. Orang-orang menatap kami dengan raut wajah yang
susah ditebak. Mungkin mereka kasihan melihat kami sudah seperti orang dikejar
setan dengan peluh sebutir jagung, baju dan jilbab yang mungkin agak kusut,
kehabisan nafas, dan berjalan geleyoran karena energi kami habis. Aku melihat
ada dua wanita yang seumuran denganku cekikian sambil menutup mata dengan
tangan menunjuk-nunjuk ke arahku. Aku segera membenahi jilbab, merapikan baju,
dan melihat tas.
“Apa ada yang aneh?”,
pikirku.
Lalu, aku melihat handphone yang masih kugenggam. Ternyata flashlight menyala dan menyoroti orang-orang yang entah sedari
kapan. Benda kecil ini ku genggam sejak dari adegan lari berlari tadi. Aku
segera mematikannya dan berjalan sembari menunduk. Malu.
Syukurlah kami
menemukan tempat duduk meski harus berjalan sampai gerbong paling depan. Kami
bertiga segera minum air mineral dan mengatur nafas. Kami mengucap syukur dalam
hati. Alhamdulillah. Kami masih sempat bertawa bersama mengingat kekonyolan
kami tadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar