Dahulu kala terdapat lautan luas yang berwarna biru bersih. Daerah ini terkenal dengan kekayaan lautnya. Hewan dan tumbuhan laut berkembang sangat banyak dan sehat. Daerah ini aman dan tenteram hingga datanglah dua hewan buas yaitu ikan sura (hiu) dan buaya.
Kedua hewan ini saling adu kekuatan
untuk merebut laut yang belum bernama tersebut. Ikan sura dan buaya sama-sama
angkuh dan tidak mau mengalah. Setiap hari keduanya terlibat perkelahian sengit.
Perkelahian tersebut berlangsung lama karena tidak ada yang benar-benar kalah.
“Buaya, aku raja lautan. Kenapa kamu
tidak mengalah saja?” tanya ikan hiu.
“Aku mampu hidup di dua dunia
sedangkan kamu tidak saja. Kenapa tidak kamu saja yang mengalah?” tanya buaya
balik kepada ikan sura.
“Maka, kita lanjutkan saja
perkelahian ini hingga salah satu di antara kita mati.” Kata ikan sura dengan
angkuh.
“Memang itu yang aku mau. Aku yakin aku
yang akan memenangkan pertarungan ini.” Kata buaya dengan yakin sembari
membusungkan dada.
Keduanya sama-sama cerdik dan kuat.
Pertarungan panjang terjadi antara keduanya. Saling menerkam. Hingga suatu
ketika mereka lelah saling bertarung dan membuat kesepakatan. Keduanya membuat
perjanjian untuk membagi wilayah kekuasaan.
“Aku tidak sanggup lagi.” Kata
keduanya bersamaan.
“Bagaimana kalau kita berdamai?”
Ikan sura menawarkan perdamaian.
“Baiklah, kita harus membuat
perjanjian.” Jawab buaya sembari mengobati luka.
“Baiklah, buaya. Kita buat
kesepekatan. Kamu hanya boleh mengambil mangsa hingga setengah lautan ini
sedangkan setengahnya lagi adalah daerah kekuasaanku.” Ikan memberikan usul
pembagian wilayah.
“Ya, aku setuju. Kita sepakat.
Jangan curang dan saling menghianati.” Buaya menjulurkan tangan tanda kesepakatan.
“Baiklah. Kita sepakat.” Ikan sura
menyambut tangan buaya.
Namun,
beberapa waktu setelah dijalankannya perjanjian ikan-ikan yang berada di daerah
kekuasaan ikan sura mulai habis. Diapun diam-diam mencari mangsa di daerah
kekuasaan buaya. Kecurangan tersebut tidak diketahui oleh ikan buaya.
Suatu ketika salah satu ikan sura
muda melapor kepada buaya mengenai kecurangan yang dilakukan oleh ikan sura
penguasa laut tengah.
“Buaya, aku punya suatu rahasia.”
Kata ikan sura muda kepada buaya.
“Rahasia apa?” Buaya bertanya pada
ikan sura muda.
“Ikan sura mencurangimu. Dia mencari
mangsa di daerah kekuasaanmu.” Ikan sura muda berbicara dengan berbisik.
“Tidak mungkin. Kita telah sepakat
untuk tidak mencurangi satu sama lain.” Buaya tidak mempercayai perkataan ikan
sura muda.
Karena penasaran dengan perkataan
ikan sura muda, buaya pun mulain mengintai diam-diam. Siang malam. Hingga buaya
memergoki ikan sura mengejar ikan kecil di daerah kekuasannya. Perkelahian pun
tidak terhindarkan lagi. Mereka saling menerkam dan menggigit. Pertarungan
lebih hebat dari pertarungan sebelum perjanjian disepakati. Buaya merasa tidak
terima dengan kecurangan dan merasa dihianati oleh perbuatan ikan sura
sedangkan ikan sura juga tidak terima karena merasa mangsa di daerah kekuasannya
amat sedikit dan tidak mencukupi kebutuhannya.
Pertarungan berlangsung lama hingga
berdarah-darah. Ikan sura menggigit ekor buaya sehingga ekor buaya bengkok ke
kiri. Sebaliknya, buaya juga menggigit ekor ikan sura hingga hampir putus.
Keduanya menghentikan pertarungan setelah sama-sama terluka sangat parah.
Akhirnya ikan sura mengaku kalah dan kembali ke daerah kekuasaannya. Buaya
merasa menang karena mampu mempertahankan daerah kekuasaan. Tidak berapa lama
kemudian keduanya mati karena terluka parah.
Konon pertarungan antara ikan sura
dan buaya ini merupakan asal-usul nama Kota Surabaya. Selain itu, ada juga yang
mengatakan bahwa surabaya berasal dari kata sura dan baya yang berarti selamat
dalam menghadapi bahaya. Sura berasal dari istilah jaya baya yang berati
selamat. Sehingga, surabaya memiliki srti selamat dalam menghadapi buaya. Nama
Surabaya tidak bisa lepas dari kisah ini. Apabila kita berkunjung ke Kota
Surabaya, kita akan melihat lambang kota berupa ikan sura dan buaya.
Referensi
: www.dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-jawa-timur-asal-usul-kota-surabaya/
dengan tambahan imajinasi penulis blog ini. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar