Membaca pesan Ardi di salah satu media sosialku itu membuatku ragu. Haruskah aku membalas pesan dari Ardi atau tidak. Aku tau saat aku mulai membuka dan memberi peluang komunikasi akan ada kemungkinan hubungan yang intens. Aku tidak menginginkan itu. Baru beberapa hari lalu aku mengikuti kajian tentang konsep menjaga diri. Salah satu cara menjaga diri adalah dengan menjaga komunikasi sewajarnya. Lalu dalam hatiku muncul pikiran, "Ah aku ini terlalu GEER, barangkali dia hanya ingin menanyakan hal yang penting. Toh, kita satu kampus. Mungkin kita bisa saling berbagi informasi tentang kegiatan kampus. Apa salahnya? Aku akan tetap ingat batasan kok."
Akhirnya aku balas pesan Ardi, "Assalamu'alaikum..😊". Beberapa jam kemudian, Ardi membalas. Obrolan kita seputar kegiatan kampus. Akhirnya, kita janji untuk ke perpustakaan bersama. Aku butuh akses internet untuk mengerjakan artikel. Dia mungkin sama.
Pertemuan kedua kami itu, aku merasa nyaman ngobrol dan berbagi informasi dengan Ardi. Caranya menjelaskan sesuatu membuatku tertarik. Pun obrolan kita tidak selalu tentang hal serius. Sejauh ini, dia adalah orang yang suka bercanda.
Adzan maghrib berkumandang dan dia menawarkan untuk sholat berjamaah di mushola terdekat. Sehabis sholat Ardi bertanya, "Abis ini masih disini? ", Aku jaeab "masih". "Makan dulu, yuk". "Gak, ah..aku udah makan tadi". "Ayolah, minum jus aja". "Makasih.. tapi, aku udah kenyang". Yaudah, abis ini masih disini kan? Gak tau.. hehe kenapa? ya kalau masih disini dan pengen ditemank merpus, aku balik sini.. Gak tau..terganting sikon sich. Yaudah, aku makan dulu ya..
Aku di perpustakaan fokus dengan editing artikelku hingga aku mendengar suara ketuk sepatu di lantai. Aku nengok dan ternyata Ardi. Dia balik lagi. Kita berdua di perpustakaan mengerjakan pekerjaan masing-masing dengan ngobrol banyak. Dia suka bercerita dan aku suka mendengar ceritanya. Akhirnya pertemuan kami berakhir hari itu.
Dari pertemuan kemarin, komunikasiku dengan Ardi semakin intens. Kami juga beberapa kali bertemu. Kami bertemu di sebuah resto, nonton, nemenin dia nyari bahan susu kedelai untuk usaha yang akan dirintisnya. Entah kenapa setiap kali bertemu ada perasaan untuk enggan mengakhiri.
Suatu ketika komunikasi kami semakin intens. Chatting, telepon dan video call. Suatu ketika Ardi bilang ingin jadi pacarku. Aku tanya kenapa pengen pacaran. Aku ingin tau seperti apa aku di matanya. Dia bilang nyaman dan ingin banyak belajar dariku.
Jujur dari dalam hati aku merasa nyaman dan dia sedikit banyak seperti pria yang aku idamkan. Namun, dalam hati aku tidak yakin dia serius dan merasakan apa yang aku rasakan. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang lain di pikirannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar