Beberapa
waktu belakangan ini, saya tertarik untuk mengikuti suatu komunitas yang berada
di Kota Surakarta. Setelah sekian waktu, saya undur diri dari kegiatan sosial
dan berorganisasi. Ada semacam bisikan dalam hati nurani, “Apakah waktu saya
sudah saya manfaatkan untuk kebahagiaan orang lain? Apakah waktu saya selama ini
berkah? Apakah saya sudah mewujudkan cita-cita saya untuk bermanfaat bagi
sesama?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti menghantui saya.
Saya mulai mencari informasi
mengenai komunitas-komunitas yang ada di Solo. Mulai dari googling, search di Instagram hingga bertanya pada beberapa teman
saya. Akhirnya saya menemukan beberapa komunitas yang membuat saya tertarik. Saya
menyukai dunia literasi dan dunia anak-anak. Salah satu gerakan sosial yang saya temukan di instagram adalah Rumah Bara. Perpustakaan sekaligus rumah bermain dan belajar.
Saya chat CP (contact person)
yang tercantum di bio instagram rumah bara. Setelah perkenalan, Mas Inyong sebagai founder
Rumah Bara mengatakan, “Main saja dulu, siapa tau jatuh cinta”. Kalimat itu
juga yang saya baca di salah satu caption foto instagram @rumah_bara.
Saya mengunjungi Rumah Bara pada hari
Rabu, 11 Oktober 2017. Sesampainya disana, saya langsung disambut anak-anak
yang berebut untuk bersalaman. Mereka menyambut tangan saya sembari bertanya, “Mbak,
namanya siapa?”. Ada pula yang langsung memperkenalkan diri, “Mbak, namaku
Daffa”. Bahagianya melihat anak-anak ini. Senyum polos dan tulus menghiasi
wajah ceria mereka.
Masuk ke halaman rumah, saya
menemukan beberapa anak perempuan sedang melumuri telor bebek dengan tanah liat
dan abu gosok. Ya, hari ini jadwal kreasi membuat telor asin. Mereka terlihat
sangat bersemangat bahkan saling berebut telor bebek. Setelah selesai membuat
telor asin, saya diajak untuk masuk teras rumah bara. Mas inyong mengeluarkan
permainan bongkar pasang dan kartu uno. Kami terbagi dalam dua kelompok. Satu kelompok
bermain bongkar pasang dan kelompok lain bermain kartu uno. “Mbak bisa main
kartu uno?”, tanya salah satu anak. Saya belum pernah bermain kartu uno. Tegar,
salah satu anak rumah bara mencoba menjelaskan dan dibantu oleh Mas Inyong. Meskipun
belum terlalu mengerti permainan ini, saya mencoba ikut bermain. Sedikit demi
sedikit saya mengerti karena anak-anak ini membantu menjelaskan aturan main.
Bosan dengan permainan, anak-anak
memilih untuk menonton televisi sedangkan saya mengobrol dengan Mas Inyong. Rumah
ini sebenarnya adalah kos-kosan. Sebagai pendatang, penghuni kos ini ingin
bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Sehingga, mereka menjadikan
kos sebagai perpustakaan sekaligus rumah bermain dan belajar. Rumah bara yang
baru berdiri sekitar enam bulan ini terlihat sederhana. Di teras terdapat
beberapa hasil kreasi seperti topeng, layang-layang, dan pohon impian yang
bertuliskan cita-cita setiap anak.
Jadwal belajar bersama rumah bara
adalah Hari Senin, Rabu, dan Jumat jam 19.30-21.00. Para relawan dengan senang
hati berbagi ilmu dan mengajari mereka pelajaran yang kurang anak-anak pahami
di sekolah. Rumah ini menjadi semacam basecamp
bagi anak-anak sekitar rumah bara. Biasanya sepulang dari sekolah, setelah
berganti baju dan makan, mereka akan langsung berkumpul di rumah bara untuk
bermain maupun membaca buku yang tersedia di teras. Mas inyong menjelaskan
bahwa anak-anak disini sering meminjam buku dan membacanya. Minat membaca
mereka lumayan tinggi. Namun, karena ketersediaan buku yang terbatas akhirnya
mereka bosan membaca buku yang itu-itu saja.
Selain fasilitas buku, rumah bara juga
menyediakan beberapa permainan tradisional. Permainan tersebut merupakan donasi
dari relawan. Bahkan, permainan egrang yang baru-baru ini dimainkan anak rumah
bara adalah buatan tangan relawan rumah bara. Berdasarkan informasi dari Mas
Inyong, dana untuk setiap kegiatan dan fasilitas yang tersedia merupakan bentuk
keikhlasan hati founder dan relawan. Pernyataan
terakhir dari Mas Inyong yang cukup mengetuk hati saya adalah, “Saya selalu
bilang pada setiap orang yang menghubungi contact
saya dan bertanya tentang Rumah Bara adalah main aja dulu, siapa tau jatuh
cinta dan biasanya mereka jatuh cinta terus balik lagi kesini”. Kunjungan dan
pertemuan pertama dengan Rumah Bara sudah membuat saya jatuh cinta dan ingin
segera mengunjunginya kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar