Sabtu, 14 Oktober 2017

Kunjungan Pertama ke Rumah Bara



           Beberapa waktu belakangan ini, saya tertarik untuk mengikuti suatu komunitas yang berada di Kota Surakarta. Setelah sekian waktu, saya undur diri dari kegiatan sosial dan berorganisasi. Ada semacam bisikan dalam hati nurani, “Apakah waktu saya sudah saya manfaatkan untuk kebahagiaan orang lain? Apakah waktu saya selama ini berkah? Apakah saya sudah mewujudkan cita-cita saya untuk bermanfaat bagi sesama?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti menghantui saya.
            Saya mulai mencari informasi mengenai komunitas-komunitas yang ada di Solo. Mulai dari googling, search di Instagram hingga bertanya pada beberapa teman saya. Akhirnya saya menemukan beberapa komunitas yang membuat saya tertarik. Saya menyukai dunia literasi dan dunia anak-anak. Salah satu gerakan sosial yang saya temukan di instagram adalah Rumah Bara. Perpustakaan sekaligus rumah bermain dan belajar.
            Saya chat CP (contact person) yang tercantum di bio instagram rumah bara. Setelah perkenalan, Mas Inyong  sebagai founder Rumah Bara mengatakan, “Main saja dulu, siapa tau jatuh cinta”. Kalimat itu juga yang saya baca di salah satu caption foto instagram @rumah_bara.
            Saya mengunjungi Rumah Bara pada hari Rabu, 11 Oktober 2017. Sesampainya disana, saya langsung disambut anak-anak yang berebut untuk bersalaman. Mereka menyambut tangan saya sembari bertanya, “Mbak, namanya siapa?”. Ada pula yang langsung memperkenalkan diri, “Mbak, namaku Daffa”. Bahagianya melihat anak-anak ini. Senyum polos dan tulus menghiasi wajah ceria mereka.
            Masuk ke halaman rumah, saya menemukan beberapa anak perempuan sedang melumuri telor bebek dengan tanah liat dan abu gosok. Ya, hari ini jadwal kreasi membuat telor asin. Mereka terlihat sangat bersemangat bahkan saling berebut telor bebek. Setelah selesai membuat telor asin, saya diajak untuk masuk teras rumah bara. Mas inyong mengeluarkan permainan bongkar pasang dan kartu uno. Kami terbagi dalam dua kelompok. Satu kelompok bermain bongkar pasang dan kelompok lain bermain kartu uno. “Mbak bisa main kartu uno?”, tanya salah satu anak. Saya belum pernah bermain kartu uno. Tegar, salah satu anak rumah bara mencoba menjelaskan dan dibantu oleh Mas Inyong. Meskipun belum terlalu mengerti permainan ini, saya mencoba ikut bermain. Sedikit demi sedikit saya mengerti karena anak-anak ini membantu menjelaskan aturan main.
            Bosan dengan permainan, anak-anak memilih untuk menonton televisi sedangkan saya mengobrol dengan Mas Inyong. Rumah ini sebenarnya adalah kos-kosan. Sebagai pendatang, penghuni kos ini ingin bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Sehingga, mereka menjadikan kos sebagai perpustakaan sekaligus rumah bermain dan belajar. Rumah bara yang baru berdiri sekitar enam bulan ini terlihat sederhana. Di teras terdapat beberapa hasil kreasi seperti topeng, layang-layang, dan pohon impian yang bertuliskan cita-cita setiap anak.
            Jadwal belajar bersama rumah bara adalah Hari Senin, Rabu, dan Jumat jam 19.30-21.00. Para relawan dengan senang hati berbagi ilmu dan mengajari mereka pelajaran yang kurang anak-anak pahami di sekolah. Rumah ini menjadi semacam basecamp bagi anak-anak sekitar rumah bara. Biasanya sepulang dari sekolah, setelah berganti baju dan makan, mereka akan langsung berkumpul di rumah bara untuk bermain maupun membaca buku yang tersedia di teras. Mas inyong menjelaskan bahwa anak-anak disini sering meminjam buku dan membacanya. Minat membaca mereka lumayan tinggi. Namun, karena ketersediaan buku yang terbatas akhirnya mereka bosan membaca buku yang itu-itu saja.
             Selain fasilitas buku, rumah bara juga menyediakan beberapa permainan tradisional. Permainan tersebut merupakan donasi dari relawan. Bahkan, permainan egrang yang baru-baru ini dimainkan anak rumah bara adalah buatan tangan relawan rumah bara. Berdasarkan informasi dari Mas Inyong, dana untuk setiap kegiatan dan fasilitas yang tersedia merupakan bentuk keikhlasan hati founder dan relawan. Pernyataan terakhir dari Mas Inyong yang cukup mengetuk hati saya adalah, “Saya selalu bilang pada setiap orang yang menghubungi contact saya dan bertanya tentang Rumah Bara adalah main aja dulu, siapa tau jatuh cinta dan biasanya mereka jatuh cinta terus balik lagi kesini”. Kunjungan dan pertemuan pertama dengan Rumah Bara sudah membuat saya jatuh cinta dan ingin segera mengunjunginya kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar