Kami sampai di stasiun
sekitar pukul 11. Sesuai rencana, kami berjalan menyusuri Jalan Malioboro
menuju Museum Benteng Vredeburg. Sampai di depan salah satu ikon Kota Jogja
yang berupa tiang bertuliskan Jalan Malioboro, sudah ramai orang berfoto.
Padahal aku berencana untuk berfoto disana karena sekalipun sering berkunjung
ke tempat ini tetapi aku belum berkesempatan untuk berfoto disana. Antrian sudah
panjang dan aku mengurungkan niatku untuk berswafoto. Kami berjalan melewati jalan
kecil di depan emperan toko sepanjang Jalan Malioboro. Para pedagang yang
biasanya sudah ramai menggelar dagangan kali ini tak terlihat. Hanya ada
beberapa penjual saja yang terlihat. Jalan kecil sepanjang 2,5 kilometer tersebut
jadi terasa lebih luas.
Kami sampai di depan museum tujuan kami. Bangunan
berwarna putih gading terlihat megah dengan tulisan Benteng Vredeburg di
depannya. Tempat wisata tersebut terlihat sepi. Tidak seperti biasanya.
Ilmi mendekati salah
satu petugas yang berjaga di pintu masuk dan bertanya, “Pak, museumnya buka
kan?”.
Petugas yang sedang
memegang koran tersebut menjawab, “ Tutup, mbak”.
Spontan aku mengajukan
pertanyaan dengan sedikit nada protes, “Lha kok tutup?”.
Petugas menjawab, “Iya,
mbak. Kan Hari Raya Idul Adha”.
Tanpa aba-aba, kami
serempak berkata. “yaaaaaaaah”.
Ilmi berkata mungkin
dengan sedikit kesal, “Kata Mbak Ris buka!”.
Aku segera menunjuk ke
papan yang digantung di depan pintu masuk benteng yang bertuliskan “Jam buka
museum Selasa-Minggu, Senin libur”.
“Tu tulisannya libur Hari
Senin, hari libur tetap buka,” kataku merasa tak enak hati tapi tak mau
disalahkan.
Bukan kami sendiri yang
merasa kecewa. Ada banyak pengunjung lain yang juga harus kembali dengan tangan
kosong karena tidak bisa masuk ke meseum tersebut. Untuk sedikit mengobati rasa
kecewa, kami memutuskan untuk berfoto bersama di depan pintu masuk dengan latar
belakang benteng yang berdiri gagah. Beruntung ada seorang perempuan yang
menawarkan diri untuk memoto kami.
Tidak berapa lama
kemudian, adzan dzuhur terdengar dan kami masuk ke area museum untuk melaksanakan
ibadah sholat. Berdasarkan informasi dari security,
benteng tutup tetapi café dan mushola yang ada di dalam tetap buka. Kami
beristirahat sebnetar di mushola yang merupakan bekas sel penjara. Ruangan
berukuran sekitar 1,5mx3m dengan langit-langit tinggi, satu jendela jeruji besi
dan satu pintu besar. Berada di dalam mushola tersebut terasa sedikit pengap
namun lumayan terbantu dengan adanya sbeuah kipas angina besar di tembok
sebelah barat.
“Bagaimana bisa ya
mereka berada di tempat ini seharian tanpa melihat dunia luar?” Tanya Ina yang
entah ditujuan kepada siapa.
“Iya,” sahut delia.
“Ini juga nggak tau ruangannya buat berapa orang. Mana lumayan pengap.” Kataku.
Setelah beristirahat
hingga sekitar jam 1, kami memutuskan untuk mencoba ke taman pintar yang tepat
berada di belakang meseum ini. Tidak sampai 20 menit, kami sampai di taman
pintar. Kami tidak melewatkan berfoto bersama di gerbang depan dan sebuah air
mancur yang menyambut di pintu masuk. Kami melihat-lihat wahana yang tersedia
disana dan menentukan satu pilihan wahana yang akan kita coba yaitu Gedung
Memorabilia, Gedung Kotak, dan Gedung Oval yang tergabung dalam 1 tiket seharga
20.000. Tak jauh dari loket tiket, ada penjual es. Tanpa pikir panjang, kami
yang kehausan segera membeli lalu kami meminum es dan membuka bekal yang kami
bawa dari solo di salah satu ujung taman pintar. Kami menyantap bekal kami
hingga tidak terasa adzan ashar berkumndang. Kami segera menuju ke masjid yang
masih satu lokasi dengan area taman.
Sekitar
pukul 3, kami segera masuk ke sebuah gedung yang terlihat besar bertuliskan “Gedung
Oval Taman Pintar”. Setelah menunjukkan tiket kepada petugas yang berjaga, kami
disambut oleh aquarium taman pintar. Ada beberapa ikan yang terlihat disana. Area
dibuat semacam lorong sepanjang tiga meter sebagai pintu masuk yang harus
dilewati untuk masuk ke bagian dalam gedung oval. Sepanjang menjelajah wahana
ini, kami tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto di setiap tempat yang
menarik. Fasilitas yang ditawarkan wahana cukup lengkap dan terjangkau untuk
tiket yang hanya seharga 20.000. Seperti took serba ada. Aquarium air tawar,
zona kehidupan prasejarah, zona tokoh penting/ilmuwan, zona teknologi, zona
ilusi, dan banyak zona lainnya yang tidak sempat kami singgahi. Wahana ini
tutup jam 16.30 sehingga tidak semua tempat bisa kami kunjungi. Setelah petugas
berkali-kali memberi info bahwa wahana akan segera ditutup, kami akhirnya
menuju pintu keluar yang ternyata langsung menuju shopping center.
Shopping
center atau yang disebut juga dengan book store taman pintar ini merupakan pusat buku murah yang ada di
Jogjakarta. Ada puluhan toko buku. Tempat ini menjadi tujuan bagi mahasiswa
yang betada di solo atau jogja unutk membeli buku.
Sekitar pukul 17.00,
kami kembali berjalan menyusuri Jalan Malioboro menuju stasiun tugu. Sepanjang jalan
mulai terlihat lebih ramai daripada ketika kami berangkat tadi siang. Banyak penjual
yang berjejer di emperan toko sepanjang jalan ini.
“Masya Allah ya, mbak. Niat kita jalan-jalan
jadi beneran jalan sepanjang jalan.” Terdengar celetuk dari Ina yang membuat
kami tertawa sambil mengangguk-angguk membenarkan.
“Iya ni, jalan terus. Capek.
Tapi, lumayanlah refreshing. Nggak sekedar wacana..hehehe,” sahutku
Sampai di stassiun kami
segera membeli tiket, takut kehabisan. Kami memperoleh tiket dengan jadwal
keberangkatan jam 20.02. Kami harus menunggu tiga jam lagi. Akhirnya, kami
menggunakan waktu tresebut dengan dan menyelonjorkan kaki di mushola stasiun.
Kami sholat maghrib dan isya disana.
Tepat pukul 20.02,
kereta berangkat. Kereta penuh sesak karena memang ini weekend. Seorang petugas kereta menyarankan kami untuk maju ke
gerbong wanita karena disana masih kosong dan di stasiun selanjutnya pasti
gerbong ini tambah penuh. Akhirnya kami menuruti saran petugas tersebut. Syita
dan Ina tetap di gerbong tersebut karena mereka memperoleh tempat duduk. Kami
berempat maju menerobos penumpang yang berdiri berdesal-desakan. Sesampainya di
gerbong waniata, aku ternganga karena disini para penumpang duduk lesehan.
Untunglah masih ada tempat buat kami. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2
jam, kami sampai kos. Alhamdulillah hari ini menyenangklan dan akan menjadi
salah satu kenangan indah pernah menjadi bagian dari kos nuha. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar