Jumat, 13 Oktober 2017

Cerita Kos Nuha ke Jogja (Part 2)


Kami sampai di stasiun sekitar pukul 11. Sesuai rencana, kami berjalan menyusuri Jalan Malioboro menuju Museum Benteng Vredeburg. Sampai di depan salah satu ikon Kota Jogja yang berupa tiang bertuliskan Jalan Malioboro, sudah ramai orang berfoto. Padahal aku berencana untuk berfoto disana karena sekalipun sering berkunjung ke tempat ini tetapi aku belum berkesempatan untuk berfoto disana. Antrian sudah panjang dan aku mengurungkan niatku untuk berswafoto. Kami berjalan melewati jalan kecil di depan emperan toko sepanjang Jalan Malioboro. Para pedagang yang biasanya sudah ramai menggelar dagangan kali ini tak terlihat. Hanya ada beberapa penjual saja yang terlihat. Jalan kecil sepanjang 2,5 kilometer tersebut jadi terasa lebih luas.
            Kami sampai di depan museum tujuan kami. Bangunan berwarna putih gading terlihat megah dengan tulisan Benteng Vredeburg di depannya. Tempat wisata tersebut terlihat sepi. Tidak seperti biasanya.
Ilmi mendekati salah satu petugas yang berjaga di pintu masuk dan bertanya, “Pak, museumnya buka kan?”.
Petugas yang sedang memegang koran tersebut menjawab, “ Tutup, mbak”.
Spontan aku mengajukan pertanyaan dengan sedikit nada protes, “Lha kok tutup?”.
Petugas menjawab, “Iya, mbak. Kan Hari Raya Idul Adha”.
Tanpa aba-aba, kami serempak berkata. “yaaaaaaaah”.
Ilmi berkata mungkin dengan sedikit kesal, “Kata Mbak Ris buka!”.
Aku segera menunjuk ke papan yang digantung di depan pintu masuk benteng yang bertuliskan “Jam buka museum Selasa-Minggu, Senin libur”.
“Tu tulisannya libur Hari Senin, hari libur tetap buka,” kataku merasa tak enak hati tapi tak mau disalahkan.
Bukan kami sendiri yang merasa kecewa. Ada banyak pengunjung lain yang juga harus kembali dengan tangan kosong karena tidak bisa masuk ke meseum tersebut. Untuk sedikit mengobati rasa kecewa, kami memutuskan untuk berfoto bersama di depan pintu masuk dengan latar belakang benteng yang berdiri gagah. Beruntung ada seorang perempuan yang menawarkan diri untuk memoto kami.
Tidak berapa lama kemudian, adzan dzuhur terdengar dan kami masuk ke area museum untuk melaksanakan ibadah sholat. Berdasarkan informasi dari security, benteng tutup tetapi café dan mushola yang ada di dalam tetap buka. Kami beristirahat sebnetar di mushola yang merupakan bekas sel penjara. Ruangan berukuran sekitar 1,5mx3m dengan langit-langit tinggi, satu jendela jeruji besi dan satu pintu besar. Berada di dalam mushola tersebut terasa sedikit pengap namun lumayan terbantu dengan adanya sbeuah kipas angina besar di tembok sebelah barat.
“Bagaimana bisa ya mereka berada di tempat ini seharian tanpa melihat dunia luar?” Tanya Ina yang entah ditujuan kepada siapa.
“Iya,” sahut delia.
“Ini juga nggak tau ruangannya buat berapa orang. Mana lumayan pengap.” Kataku.
Setelah beristirahat hingga sekitar jam 1, kami memutuskan untuk mencoba ke taman pintar yang tepat berada di belakang meseum ini. Tidak sampai 20 menit, kami sampai di taman pintar. Kami tidak melewatkan berfoto bersama di gerbang depan dan sebuah air mancur yang menyambut di pintu masuk. Kami melihat-lihat wahana yang tersedia disana dan menentukan satu pilihan wahana yang akan kita coba yaitu Gedung Memorabilia, Gedung Kotak, dan Gedung Oval yang tergabung dalam 1 tiket seharga 20.000. Tak jauh dari loket tiket, ada penjual es. Tanpa pikir panjang, kami yang kehausan segera membeli lalu kami meminum es dan membuka bekal yang kami bawa dari solo di salah satu ujung taman pintar. Kami menyantap bekal kami hingga tidak terasa adzan ashar berkumndang. Kami segera menuju ke masjid yang masih satu lokasi dengan area taman.
            Sekitar pukul 3, kami segera masuk ke sebuah gedung yang terlihat besar bertuliskan “Gedung Oval Taman Pintar”. Setelah menunjukkan tiket kepada petugas yang berjaga, kami disambut oleh aquarium taman pintar. Ada beberapa ikan yang terlihat disana. Area dibuat semacam lorong sepanjang tiga meter sebagai pintu masuk yang harus dilewati untuk masuk ke bagian dalam gedung oval. Sepanjang menjelajah wahana ini, kami tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto di setiap tempat yang menarik. Fasilitas yang ditawarkan wahana cukup lengkap dan terjangkau untuk tiket yang hanya seharga 20.000. Seperti took serba ada. Aquarium air tawar, zona kehidupan prasejarah, zona tokoh penting/ilmuwan, zona teknologi, zona ilusi, dan banyak zona lainnya yang tidak sempat kami singgahi. Wahana ini tutup jam 16.30 sehingga tidak semua tempat bisa kami kunjungi. Setelah petugas berkali-kali memberi info bahwa wahana akan segera ditutup, kami akhirnya menuju pintu keluar yang ternyata langsung menuju shopping center.
Shopping center atau yang disebut juga dengan book store taman pintar ini merupakan pusat buku murah yang ada di Jogjakarta. Ada puluhan toko buku. Tempat ini menjadi tujuan bagi mahasiswa yang betada di solo atau jogja unutk membeli buku.
Sekitar pukul 17.00, kami kembali berjalan menyusuri Jalan Malioboro menuju stasiun tugu. Sepanjang jalan mulai terlihat lebih ramai daripada ketika kami berangkat tadi siang. Banyak penjual yang berjejer di emperan toko sepanjang jalan ini.
 “Masya Allah ya, mbak. Niat kita jalan-jalan jadi beneran jalan sepanjang jalan.” Terdengar celetuk dari Ina yang membuat kami tertawa sambil mengangguk-angguk membenarkan.
“Iya ni, jalan terus. Capek. Tapi, lumayanlah refreshing. Nggak sekedar wacana..hehehe,” sahutku
Sampai di stassiun kami segera membeli tiket, takut kehabisan. Kami memperoleh tiket dengan jadwal keberangkatan jam 20.02. Kami harus menunggu tiga jam lagi. Akhirnya, kami menggunakan waktu tresebut dengan dan menyelonjorkan kaki di mushola stasiun. Kami sholat maghrib dan isya disana.
Tepat pukul 20.02, kereta berangkat. Kereta penuh sesak karena memang ini weekend. Seorang petugas kereta menyarankan kami untuk maju ke gerbong wanita karena disana masih kosong dan di stasiun selanjutnya pasti gerbong ini tambah penuh. Akhirnya kami menuruti saran petugas tersebut. Syita dan Ina tetap di gerbong tersebut karena mereka memperoleh tempat duduk. Kami berempat maju menerobos penumpang yang berdiri berdesal-desakan. Sesampainya di gerbong waniata, aku ternganga karena disini para penumpang duduk lesehan. Untunglah masih ada tempat buat kami. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam, kami sampai kos. Alhamdulillah hari ini menyenangklan dan akan menjadi salah satu kenangan indah pernah menjadi bagian dari kos nuha. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar