Kamis, 05 Oktober 2017

Foto Bersama Ayah

            “Ayah..ayah...”, panggilku dengan nafas terengah-terengah karena berusaha berlari mengejar sebuah taksi yang membawa Ayah pergi. Aku tersentak bangun dari tidur dan menyadari aku telah mengigau. Peluh membasahi seluruh wajahku, badanku terasa gemetar dan ada rasa sesak yang hebat di ulu hatiku. Ini kesekian kalinya ayah hadir dalam mimpiku. Ya, mungkin aku teramat merindukannya. Merindukan seorang Ayah yang secara raga tak lagi tinggal bersamaku, ibu dan adik semenjak belasan tahun yang lalu itu. Perpisahan Ayah dan Ibu mengharuskan Ibu untuk mengasuh dua anak perempuannya yang masih balita sementara Ayah memutuskan untuk kembali ke kampung halaman yang letaknya sangat jauh dari tempat tinggal kami.
            Kehadiran Ayah dalam mimpiku selalu berhasil membawaku ke memori belasan tahun yang lalu, saat usiaku belum genap 5 tahun. Teringat sosok Ayah begitu menyayangi dan memanjakanku. Apapun akan dilakukannya untuk anak sulungnya ini.
            Bagaikan sebuah film, kenangan-kenangan masa kecil itu berkelebatan dalam pikiranku. Ayah menggendong dan membawaku berkeliling daerah tempat tinggal kami, membawaku berkeliling dari satu toko ke toko lain untuk memenuhi minatku akan boneka, atau di saat yang lain mengajakku datang ke tempat kerjanya sekedar untuk berjalan-jalan ketika Ayah sedang libur bekerja. Suatu ketika anak kesayangannya ini terbangun dari tidurnya tepat tengah malam dan meminta makanan kesukaannya, ayam goreng. Tanpa pikir panjang pun Ayah segera meraih kunci motor dan segera melesat untuk menuruti keinginanku itu.
            Di lain waktu Ayah membawaku duduk di pangkuannya. Pada saat-saat kebersamaan kami itu, Ayah selalu memberikan nasihat-nasihatnya, “Nak, jadilah anak yang taat pada aturan Allah. Kita hidup di dunia ini untuk beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, setiap hal yang Shinta lakukan haruslah dengan tujuan untuk mencari Ridho Allah.”.   Semua ingatan itu mampu membuat aliran sungai deras di kedua pipiku.
            Selama ini komunikasiku dengan Ayah hanya melalui telepon genggam dan kami bertemu setiap hari raya Idul Fitri, aku dan Adik berkunjung ke kampung Ayah. Komunikasi via suara tersebut pun sangat jarang karena kesibukan Ayah yang luar biasa. Ayah adalah seorang pekerja keras. Kerenggangan komunikasi ini bagaikan api dalam sekam yang bisa membakar apa-apa saja yang ada disekitarnya. Komunikasi yang sangat minim itu menjadi sebuah permasalahan tak terhindarkan di suatu saat.
            Seringkali ada rasa iri menyelusup dengan lembut dalam hatiku ketika melihat ada seorang anak gadis yang dengan nyamannya dibonceng sang ayah menuju tempat sekolahnya. Ketika melihat seorang ayah dan anak gadisnya saling bergandeng tangan menyusuri pertokoan di sebuah pusat perbelanjaan. Ketika melihat teman-temanku mendapat telepon dari Ayahnya yang menanyakan pulang sekolah jam berapa dan berpesan hati-hati. Rasa iri itu sesungguhnya hanya menambah rasa sesak dalam hatiku.
            Apabila diingat-ingat hanya hingga usiaku 6 tahun aku merasakan kasih sayang kedua orang tuaku secara utuh. Merasakan bahagianya berada dalam pelukan Ayah dan Ibu saat aku terlelap. Merasakan bahagianya secara bergantian mendengarkan Ayah dan Ibu menyampaikan harapan-harapan untuk buah hatinya kelak.
            Pernah suatu ketika rasa iri dan rindu akan kehadiran ayah menjelma menjadi rasa kesal dan kecewa. Perpisahan fisik membuatku merasa Ayah tidak memperhatikanku dan hanya sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Aku raih telepon genggam dan segera menelpon sosok yang amat kurindukan itu. Segera saja setelah salam tercuap dari seberang sana, meluncur kalimat-kalimat yang ada di pikiranku, “Ayah, kenapa Ayah sama sekali tidak perhatian pada Shinta dan Adik? Apakah Ayah tidak rindu? Kenapa Ayah jarang menghubungi kami? Apakah pekerjaan Ayah lebih penting?”. Kalimat-kalimat itu keluar begitu saja bagaikan rentetan gerbong kereta di sela tangisku yang tidak tertahankan. Di ujung telepon kudengar isak tangis Ayah yang berusaha ditahannya. Ayah hanya mengatakan, “Maafkan Ayah, Nak. Ayah belum bisa menjadi seorang Ayah yang baik untuk Shinta dan Adik”. Sesalku tak terbilangkan. Aku menyadari kata-kataku keterlaluan. “Shinta hanya rindu, Ayah. Maafin Shinta”, ucapku dengan terbata-bata.
            Aku masih menangis tersedu-sedu dengan muka ku benamkan di kedua lututku ketika kurasakan ada tangan lembut yang berusaha mengangkat wajahku. “Sabarlah, Nak. Percaya ini bagian dari takdir Allah yang harus kita terima dengan lapang dada dan harus juga kita syukuri. Cobalah lihat di luar banyak anak-anak yang bahkan hanya sekedar untuk mendengar suara Ayah Ibu mereka sudah tidak mungkin lagi. Bahkan ada yang hanya sekedar untuk tahu wajah orang tua mereka pun tidak. Shinta lebih beruntung dari mereka. Meskipun tidak setiap hari bisa ngobrol atau ketemu sama Ayah tapi Shinta masih punya Ayah. Belajarlah untuk lebih bersyukur, Nak. Ibu yakin Shinta saya banget sama Shinta dan Adik. Tidak ada orang tua yang ingin melihat buah hatinya bersedih”.
            Saat ini usiaku sudah memasuki 22 tahun dan beberapa bulan lagi usai sudah studi sarjanaku. Ada satu hal yang sangat ku harapkan pada hari wisudaku nanti, aku ingin didampingi oleh kedua orang tuaku. Aku ingin memiliki satu bentuk keluarga yang utuh meskipun itu hanya dalam bentuk selembar foto. Aku yang menggunakan toga berdiri di satu bingkai yang sama dengan Ayah, Ibu, dan Adik.
            Waktu berlalu dengan begitu cepatnya. Saat ini aku yang masih berseragam seorang pengajar dan baru pulang dari kampus tempatku mengabdi. Aku berdiri tepat di depan bingkai foto yang digantung di rumah yang baru mulai ku tempati beberapa hari yang lalu. Senyum terkembang di wajahku menatap dua bingkai foto yang membuatku amat bahagia. Ya, hanya dua lembar foto namun amat berharga untukku. Aku menggunakan toga dan menggamit tangan kedua orang tuaku. Wajah sumingrah Ayah dan Ibu melambungkan kembali ingatanku pada wisuda sarjana dan pascasarjanaku. Terucap syukur dalam hati salah satu impianku ini telah tercapai sebagai pengingat di masa tuaku nanti bahwa aku memiliki Ayah dan Ibu yang luar biasa menyayangiku. Teruntuk yang jauh namun tetap selalu dekat di hati, “Ayah, terima kasih telah mewujudkan salah satu impianku”.


Cerpen ini adalah cerpen pertama yang akhirnya berhasil terselesaikan beberapa tahun yang lalu.  Setelah dibaca ternyata masih berantakan.  Kapan-kapan diedit.😆

1 komentar: