“Ayah..ayah...”,
panggilku dengan nafas terengah-terengah karena berusaha berlari mengejar
sebuah taksi yang membawa Ayah pergi. Aku tersentak bangun dari tidur dan
menyadari aku telah mengigau. Peluh membasahi seluruh wajahku, badanku terasa
gemetar dan ada rasa sesak yang hebat di ulu hatiku. Ini kesekian kalinya ayah
hadir dalam mimpiku. Ya, mungkin aku teramat merindukannya. Merindukan seorang
Ayah yang secara raga tak lagi tinggal bersamaku, ibu dan adik semenjak belasan
tahun yang lalu itu. Perpisahan Ayah dan Ibu mengharuskan Ibu untuk mengasuh
dua anak perempuannya yang masih balita sementara Ayah memutuskan untuk kembali
ke kampung halaman yang letaknya sangat jauh dari tempat tinggal kami.
Kehadiran
Ayah dalam mimpiku selalu berhasil membawaku ke memori belasan tahun yang lalu,
saat usiaku belum genap 5 tahun. Teringat sosok Ayah begitu menyayangi dan
memanjakanku. Apapun akan dilakukannya untuk anak sulungnya ini.
Bagaikan
sebuah film, kenangan-kenangan masa kecil itu berkelebatan dalam pikiranku.
Ayah menggendong dan membawaku berkeliling daerah tempat tinggal kami,
membawaku berkeliling dari satu toko ke toko lain untuk memenuhi minatku akan
boneka, atau di saat yang lain mengajakku datang ke tempat kerjanya sekedar
untuk berjalan-jalan ketika Ayah sedang libur bekerja. Suatu ketika anak
kesayangannya ini terbangun dari tidurnya tepat tengah malam dan meminta
makanan kesukaannya, ayam goreng. Tanpa pikir panjang pun Ayah segera meraih
kunci motor dan segera melesat untuk menuruti keinginanku itu.
Di
lain waktu Ayah membawaku duduk di pangkuannya. Pada saat-saat kebersamaan kami
itu, Ayah selalu memberikan nasihat-nasihatnya, “Nak, jadilah anak yang taat
pada aturan Allah. Kita hidup di dunia ini untuk beribadah kepada Allah. Oleh
karena itu, setiap hal yang Shinta lakukan haruslah dengan tujuan untuk mencari
Ridho Allah.”. Semua ingatan itu mampu
membuat aliran sungai deras di kedua pipiku.
Selama
ini komunikasiku dengan Ayah hanya melalui telepon genggam dan kami bertemu
setiap hari raya Idul Fitri, aku dan Adik berkunjung ke kampung Ayah. Komunikasi
via suara tersebut pun sangat jarang karena kesibukan Ayah yang luar biasa. Ayah
adalah seorang pekerja keras. Kerenggangan komunikasi ini bagaikan api dalam
sekam yang bisa membakar apa-apa saja yang ada disekitarnya. Komunikasi yang
sangat minim itu menjadi sebuah permasalahan tak terhindarkan di suatu saat.
Seringkali
ada rasa iri menyelusup dengan lembut dalam hatiku ketika melihat ada seorang
anak gadis yang dengan nyamannya dibonceng sang ayah menuju tempat sekolahnya.
Ketika melihat seorang ayah dan anak gadisnya saling bergandeng tangan menyusuri
pertokoan di sebuah pusat perbelanjaan. Ketika melihat teman-temanku mendapat
telepon dari Ayahnya yang menanyakan pulang sekolah jam berapa dan berpesan
hati-hati. Rasa iri itu sesungguhnya hanya menambah rasa sesak dalam hatiku.
Apabila
diingat-ingat hanya hingga usiaku 6 tahun aku merasakan kasih sayang kedua
orang tuaku secara utuh. Merasakan bahagianya berada dalam pelukan Ayah dan Ibu
saat aku terlelap. Merasakan bahagianya secara bergantian mendengarkan Ayah dan
Ibu menyampaikan harapan-harapan untuk buah hatinya kelak.
Pernah
suatu ketika rasa iri dan rindu akan kehadiran ayah menjelma menjadi rasa kesal
dan kecewa. Perpisahan fisik membuatku merasa Ayah tidak memperhatikanku dan
hanya sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Aku raih telepon genggam dan segera
menelpon sosok yang amat kurindukan itu. Segera saja setelah salam tercuap dari
seberang sana, meluncur kalimat-kalimat yang ada di pikiranku, “Ayah, kenapa
Ayah sama sekali tidak perhatian pada Shinta dan Adik? Apakah Ayah tidak rindu?
Kenapa Ayah jarang menghubungi kami? Apakah pekerjaan Ayah lebih penting?”.
Kalimat-kalimat itu keluar begitu saja bagaikan rentetan gerbong kereta di sela
tangisku yang tidak tertahankan. Di ujung telepon kudengar isak tangis Ayah
yang berusaha ditahannya. Ayah hanya mengatakan, “Maafkan Ayah, Nak. Ayah belum
bisa menjadi seorang Ayah yang baik untuk Shinta dan Adik”. Sesalku tak
terbilangkan. Aku menyadari kata-kataku keterlaluan. “Shinta hanya rindu, Ayah.
Maafin Shinta”, ucapku dengan terbata-bata.
Aku
masih menangis tersedu-sedu dengan muka ku benamkan di kedua lututku ketika
kurasakan ada tangan lembut yang berusaha mengangkat wajahku. “Sabarlah, Nak.
Percaya ini bagian dari takdir Allah yang harus kita terima dengan lapang dada
dan harus juga kita syukuri. Cobalah lihat di luar banyak anak-anak yang bahkan
hanya sekedar untuk mendengar suara Ayah Ibu mereka sudah tidak mungkin lagi.
Bahkan ada yang hanya sekedar untuk tahu wajah orang tua mereka pun tidak.
Shinta lebih beruntung dari mereka. Meskipun tidak setiap hari bisa ngobrol
atau ketemu sama Ayah tapi Shinta masih punya Ayah. Belajarlah untuk lebih
bersyukur, Nak. Ibu yakin Shinta saya banget sama Shinta dan Adik. Tidak ada
orang tua yang ingin melihat buah hatinya bersedih”.
Saat
ini usiaku sudah memasuki 22 tahun dan beberapa bulan lagi usai sudah studi
sarjanaku. Ada satu hal yang sangat ku harapkan pada hari wisudaku nanti, aku
ingin didampingi oleh kedua orang tuaku. Aku ingin memiliki satu bentuk
keluarga yang utuh meskipun itu hanya dalam bentuk selembar foto. Aku yang
menggunakan toga berdiri di satu bingkai yang sama dengan Ayah, Ibu, dan Adik.
Waktu
berlalu dengan begitu cepatnya. Saat ini aku yang masih berseragam seorang
pengajar dan baru pulang dari kampus tempatku mengabdi. Aku berdiri tepat di
depan bingkai foto yang digantung di rumah yang baru mulai ku tempati beberapa
hari yang lalu. Senyum terkembang di wajahku menatap dua bingkai foto yang
membuatku amat bahagia. Ya, hanya dua lembar foto namun amat berharga untukku.
Aku menggunakan toga dan menggamit tangan kedua orang tuaku. Wajah sumingrah
Ayah dan Ibu melambungkan kembali ingatanku pada wisuda sarjana dan
pascasarjanaku. Terucap syukur dalam hati salah satu impianku ini telah
tercapai sebagai pengingat di masa tuaku nanti bahwa aku memiliki Ayah dan Ibu
yang luar biasa menyayangiku. Teruntuk yang jauh namun tetap selalu dekat di
hati, “Ayah, terima kasih telah mewujudkan salah satu impianku”.
Cerpen ini adalah cerpen pertama yang akhirnya berhasil terselesaikan beberapa tahun yang lalu. Setelah dibaca ternyata masih berantakan. Kapan-kapan diedit.😆
Alurny bagus....q bisa terbawa
BalasHapus