Kamis, 22 Februari 2018

Bagaimanapun, terimakasih..

Untuk kamu..
Terimakasih karena ada di dunia..
Terimakasih karena mau hadir di kehidupanku..
Terimakasih karena telah memberi secuil asa di hatiku..
Terimakasih karena memutuskan pergi di tengah pengharapanku..
Terimakasih karena akhirnya hilang dari hari-hariku..
Apapun yang terjadi pada diriku setelah kehadiran dan kepergianmu yang semuanya nyata tidak pernah kusangka..
Butiran-butiran kejadian berupa harapan, kebahagiaan, senyuman, asa, bahkan luka dan kecewa..
Semuanya penuh dengan pelajaran..
Seperti katamu, berharap hanya pada Allah..
Ya, aku tahu berharap pada manusia seringkali berakhir dengan kekecewaan..
Seperti tentang aku dan kamu..
Semuanya berlalu..
Begitu saja..
Sekali lagi..

Terimakasih, kamu..:’)

Sabtu, 14 Oktober 2017

Ketika Wanita Jatuh Cinta



             Kamu wanita dan pernah jatuh cinta? Kalau iya dan sudah pernah jatuh cinta, pasti kamu akan merasa dia ada dimana-mana. Seperti menghantui. Mengganggu pikiran. Selalu ada namanya. Selalu seperti mendengar suaranya. Selalu seperti mendengar derap langkahnya. Selalu seolah melihat dirinya. Selalu mencari cara untuk bertemu seolah pertemuan yang tidak sengaja. Selalu mencari alasan untuk bisa menghubunginya.
            Buka artikel, cerpen, novel, atau tulisan lainnya pasti tetiba ada nama si doi disana. Padahal sebelum menaruh hati pada si dia, pasti nama itu terlihat biasa saja. Meskipun, muncul di setiap halaman kertas yang kamu buka. Meskipun, ada di setiap tulisan yang kamu baca. Pastiiii.
              Menonton televisi. Nama tokoh utama sinetron yang kamu tonton adalah nama si doi. Kamu tersenyum. Dalam hati muncul suatu kalimat, "Mungkin ini yang namannya jodoh". Muncul bunga-bunga di pikiranmu. Kamu merasa bahagia.
            Ketika di tempat parkir melihat motor yang mirip punya si doi. Kamu berpikir, “Jangan-jangan dia juga disini”. Sampai kamu lihat itu kode plat nomor untuk kota lain bukan kode plat nomor motor si doi. Lalu, kamu sedikit kecewa.
            Mungkin juga kamu hafal suara motornya. Kamu menyetir motor dan mendengar suara motor yang mirip dengan suara motor si doi. Lalu, kamu melirik dan ternyata si pengendara bukanlah orang yang kamu harapkan. Ah, lagi-lagi hanya motor yang mirip.
            Di suatu tempat, katakanlah rumah makan yang mungkin menjadi tempat langganan si dia. Lalu, kamu makan dan terlihat ada sesosok yang berkelebat. Mirip dia. Kamu bisa melihat punggungnya. Dia berbalik dan kamu harus menelan pil kekecewaan. Ternyata hanya postur tubuh yang mirip.
            Kamu tahu suatu tempat yang sering dikunjunginya. Kos teman si doi. Tanpa alasan, kamu sengaja lewat kos itu padahal kamu bisa lewat jalan lain yang lebih dekat. Kamu menutup kaca helm dan ketika sampai di depan TKP (tempat kejadian perkara), kamu melirik ke arah kos dan berharap dia sedang mengobrol dengan temannya. Namun, hanya rumput ilalang yang menyapa.
            Suatu ketika juga, kamu punya informasi suatu seminar. Karena kamu tidak mau memulai pembicaraan, sengaja kamu kirim informasi tersebut ke si doi. Kamu berharap itu bisa menjadi awal pembicaraan. Ternyata, dia hanya merespon dengan, “Terima kasih informasinya”. Kamu hanya membalas dengan J.
            Akhirnya, kamu sadar semua itu mulai mengganggu hari-harimu. Padahal, dia bukanlah siapa-siapamu dan bahkan kamu bukan siapa-siapa baginya. Kamu mulai berpikir, “Sepertinya aku harus diruqyah”. Padahal itu semua hanyalah alam bawah sadarmu yang terlalu memikirkannya. Terlalu berharap pada si dia. Padahal, belum tentu lho si doi merasakan hal yang sama. Mungkin saja si dia baik pada semua orang dan kamu mengira dia menspesialkanmu. Padahal, tidak.
            Hei, ubah cara pikirmu! Jangan sampai dia menyita sebagian besar waktumu. Kamu harus mampu menguasai dirimu sendiri. Jangan biarkan dia menguasai dirimu hingga kamu tidak bisa berpikir secara benar dan apa yang menjadi kewajibanmu terbengkalai.

#tulisan random untuk yang berharap pada yang belum halal.

Asal Usul Kota Surabaya


             Dahulu kala terdapat lautan luas yang berwarna biru bersih. Daerah ini terkenal dengan kekayaan lautnya. Hewan dan tumbuhan laut berkembang sangat banyak dan sehat. Daerah ini aman dan tenteram hingga datanglah dua hewan buas yaitu ikan sura (hiu) dan buaya.
            Kedua hewan ini saling adu kekuatan untuk merebut laut yang belum bernama tersebut. Ikan sura dan buaya sama-sama angkuh dan tidak mau mengalah. Setiap hari keduanya terlibat perkelahian sengit. Perkelahian tersebut berlangsung lama karena tidak ada yang benar-benar kalah.
            “Buaya, aku raja lautan. Kenapa kamu tidak mengalah saja?” tanya ikan hiu.
            “Aku mampu hidup di dua dunia sedangkan kamu tidak saja. Kenapa tidak kamu saja yang mengalah?” tanya buaya balik kepada ikan sura.
            “Maka, kita lanjutkan saja perkelahian ini hingga salah satu di antara kita mati.” Kata ikan sura dengan angkuh.
            “Memang itu yang aku mau. Aku yakin aku yang akan memenangkan pertarungan ini.” Kata buaya dengan yakin sembari membusungkan dada.
            Keduanya sama-sama cerdik dan kuat. Pertarungan panjang terjadi antara keduanya. Saling menerkam. Hingga suatu ketika mereka lelah saling bertarung dan membuat kesepakatan. Keduanya membuat perjanjian untuk membagi wilayah kekuasaan.
            “Aku tidak sanggup lagi.” Kata keduanya bersamaan.
            “Bagaimana kalau kita berdamai?” Ikan sura menawarkan perdamaian.
            “Baiklah, kita harus membuat perjanjian.” Jawab buaya sembari mengobati luka.
            “Baiklah, buaya. Kita buat kesepekatan. Kamu hanya boleh mengambil mangsa hingga setengah lautan ini sedangkan setengahnya lagi adalah daerah kekuasaanku.” Ikan memberikan usul pembagian wilayah.
            “Ya, aku setuju. Kita sepakat. Jangan curang dan saling menghianati.” Buaya menjulurkan tangan tanda kesepakatan.
            “Baiklah. Kita sepakat.” Ikan sura menyambut tangan buaya.
            Namun, beberapa waktu setelah dijalankannya perjanjian ikan-ikan yang berada di daerah kekuasaan ikan sura mulai habis. Diapun diam-diam mencari mangsa di daerah kekuasaan buaya. Kecurangan tersebut tidak diketahui oleh ikan buaya.
            Suatu ketika salah satu ikan sura muda melapor kepada buaya mengenai kecurangan yang dilakukan oleh ikan sura penguasa laut tengah.
            “Buaya, aku punya suatu rahasia.” Kata ikan sura muda kepada buaya.
            “Rahasia apa?” Buaya bertanya pada ikan sura muda.
            “Ikan sura mencurangimu. Dia mencari mangsa di daerah kekuasaanmu.” Ikan sura muda berbicara dengan berbisik.
            “Tidak mungkin. Kita telah sepakat untuk tidak mencurangi satu sama lain.” Buaya tidak mempercayai perkataan ikan sura muda.
            Karena penasaran dengan perkataan ikan sura muda, buaya pun mulain mengintai diam-diam. Siang malam. Hingga buaya memergoki ikan sura mengejar ikan kecil di daerah kekuasannya. Perkelahian pun tidak terhindarkan lagi. Mereka saling menerkam dan menggigit. Pertarungan lebih hebat dari pertarungan sebelum perjanjian disepakati. Buaya merasa tidak terima dengan kecurangan dan merasa dihianati oleh perbuatan ikan sura sedangkan ikan sura juga tidak terima karena merasa mangsa di daerah kekuasannya amat sedikit dan tidak mencukupi kebutuhannya.
            Pertarungan berlangsung lama hingga berdarah-darah. Ikan sura menggigit ekor buaya sehingga ekor buaya bengkok ke kiri. Sebaliknya, buaya juga menggigit ekor ikan sura hingga hampir putus. Keduanya menghentikan pertarungan setelah sama-sama terluka sangat parah. Akhirnya ikan sura mengaku kalah dan kembali ke daerah kekuasaannya. Buaya merasa menang karena mampu mempertahankan daerah kekuasaan. Tidak berapa lama kemudian keduanya mati karena terluka parah.
            Konon pertarungan antara ikan sura dan buaya ini merupakan asal-usul nama Kota Surabaya. Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa surabaya berasal dari kata sura dan baya yang berarti selamat dalam menghadapi bahaya. Sura berasal dari istilah jaya baya yang berati selamat. Sehingga, surabaya memiliki srti selamat dalam menghadapi buaya. Nama Surabaya tidak bisa lepas dari kisah ini. Apabila kita berkunjung ke Kota Surabaya, kita akan melihat lambang kota berupa ikan sura dan buaya.

Referensi : www.dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-jawa-timur-asal-usul-kota-surabaya/ dengan tambahan imajinasi penulis blog ini. J