Namanya Dewi Faranisa, biasa dipanggil Nisa. Dia salah satu temen kosku yang baik banget, amat sangat terlalu baik. Tangannya terasa gatal jika tidak menolong orang lain, bibirnya selalu ringan untuk menawarkan bantuan. Dia selalu memberikan semangat dengan memberikan pujian dan hatinya terlalu lembut terbukti dia sering ikutan sedih jika kami sedang curhat kepadanya.
"Besok anter Nisa ke pasar yuk, kak. Beli sepatu. Abis Nisa nggak punya sepatu buat ikut seminar," kata Nisa sehabis maghrib di depan ruang televisi.
"Yuk, Nis. Besok jam berapa?", jawabku.
"Pasar buka jam berapa ya?", Nisa kembali bertanya.
"Jam sepuluh. Kita berangkat jam segitu aja ya." saranku.
"Besok anter Nisa ke pasar yuk, kak. Beli sepatu. Abis Nisa nggak punya sepatu buat ikut seminar," kata Nisa sehabis maghrib di depan ruang televisi.
"Yuk, Nis. Besok jam berapa?", jawabku.
"Pasar buka jam berapa ya?", Nisa kembali bertanya.
"Jam sepuluh. Kita berangkat jam segitu aja ya." saranku.
Matahari bersinar cerah hari ini. Aku menyetrika baju, mandi, dan memanasi motor. Jam 10 aku dan Nisa berangkat ke pasar yang berjarak sekitar 10 km dari kos. Segera kami mendatangi salah satu toko sepatu. Nisa melihat-lihat sepatu yang dia inginkan. Ada salah satu sepatu yang dia suka tetapi ukuran kakinya tidak tersedia. Lalu, kami pergi ke toko di sebelahnya. Namun, hingga beberapa toko Nisa tidak pula menemukan sepatu yang sesuai. Entah tidak sesuai model atau tidak sesuai dengan ukuran kaki. Hingga pada toko kesekian, Nisa menemukan salah satu sepatu yang disukai. Namun, tidak terbeli karena tidak sesuai harga. Hahaha.
Nisa bercerita bahwa ayahnya sering mengeluh apabila menemaninya untuk membeli sesuatu karena Nisa tipe orang yang suka meminta pendapat tapi belum tentu dibeli..hehehe Satu kalimat yang paling diingat Nisa adalah "Kalau suka ya dibeli, kalau nggak suka ya udah. Kan yang makai kamu bukan Ayah."
"Ya, namanya juga perempuan. Pasti banyak pertimbangan. Pasti banyak barang yang dilirik. Kalau laki-laki niat pergi untuk beli suatu barang ya beli itu aja. Nggak lirik-lirik yang lain. Makanya, laki-laki paling nggak suka nemenin perempuan belanja. Hehe." Komentarku.
"Iya ya, kak. Itulah perempuan. Sepatunya nanti aja dech, kak. Mau dipikir dulu. Sebenarnya udah cinta sama sepatu yang bahan jeans tadi tapi kok mahal banget ya." kata Nisa sambil nyengir.
"Ya udah, liat jilbab dulu yuk. Siapa tau ada yang cocok. Dari kemarin aku pengen beli jilbab warna abu, Nis." ajakku.
Akhirnya kita menuju ke dua toko yang kuketahui. Namun, tidak ada yang kusuka.
"Kita ke pameran aja gimana, Nis? Disana kan murah-murah," saranku.
"Kayaknya Nisa bakalan beli jilbab, nggak jadi beli sepatu. Padahal lebih butuh sepatu sekarang," kata Nisa dengan senyum khasnya.
"Ya udah, liat-liat aja. Aku yang beli", kataku sambil tertawa.
"Kita ke pameran aja gimana, Nis? Disana kan murah-murah," saranku.
"Kayaknya Nisa bakalan beli jilbab, nggak jadi beli sepatu. Padahal lebih butuh sepatu sekarang," kata Nisa dengan senyum khasnya.
"Ya udah, liat-liat aja. Aku yang beli", kataku sambil tertawa.
Aku dan Nisa menuju bazar yang berjarak sekitar 20 km. Sesampai disana, kami mengelilingi bazar. Bazar itu menyediakan banyak barang. Gamis, jilbab, rok, kemeja, buku, dan herbal. Lengkap dan harga terjangkau. Bikin laper mata.
"Celaka. Aku bisa kalap ini," batinku.
Setelah berkeliling lama, aku menahan untuk membeli barang-barang yang menarik hatiku dan hanya memutuskan untuk membeli satu jilbab. Begitupun dengan Nisa, dia hanya membeli satu jilbab karena belum membeli sepatu.
Selesai membeli jilbab, kami sholat di Masjid Assalam yang masih satu lokasi dengan tempat bazar. Setelah sholat, kami langsung menuju salah satu toko kue. Dari toko kue, kami menuju apotik karena salah satu teman minta dibelikan obat.
Kami mendatangi salah satu apotik dekat kampus. Pintunya agak rusak. Ketika Nisa membuka pintu, aku dibelakang Nisa dan segera ikut masuk dan aku hampir terjepit pintu. Begitupun ketika kami keluar apotik, gantian Nisa yang terkena hantaman pintu. Pintu itu menjepit separuh badan Nisa. Aku tidak enak hati. Tapi, kami berdua malah tertawa.
Aku bertanya berkali-kali karena takut Nisa terluka, "Kamu nggak apa-apa kan, Nis? Ada yang luka? Ada yang berdarah?". Aku agak panik tapi tidak bisa menahan tertawa.
Nisa menjawab sambil tertawa juga, "Nggak apa-apa, kak. Tapi, agak sakit sich. Sedikit."
"Duh, maaf ya Nis. Nggak sengaja." Kataku berkali-kali pada Nisa.
Nisa menjawab sambil tertawa juga, "Nggak apa-apa, kak. Tapi, agak sakit sich. Sedikit."
"Duh, maaf ya Nis. Nggak sengaja." Kataku berkali-kali pada Nisa.
Setelah itu aku dan Nisa menuju salah satu tempat makan langganan anak kampus. Aurora. Selain murah, ada banyak pilihan makanan dan tempatnya luas. Kami makan sambil bercerita banyak hal. Curhat. Mulai dari kegiatan kampus, rencana setelah lulus hingga teman hidup idaman. Aku dan Nisa bercerita hingga lupa waktu. Tidak terasa sudah menjelang waktu ashar. Kami bergegas pulang ke kos. Sebelum masuk kamar masing-masing Nisa mengatakan, "Terimakasih udah nemeni Nisa, kak".
--Tantangan ODOP pekan kedua--
Membuat cerpen genre bebas dengan jumlah kata minimal 400 kata. POV 1. Cerpen harus meiliki kata : berdarah, cinta, hidup, celaka, matahari.
Udah bagus nih idenya, mengalir penyampaiannya.
BalasHapusTerimakasih, mbak wiwid.. 😊
BalasHapus